Selain itu, setiap kali mengejarnya, aku selalu melewati jalan sembarangan dan tak pernah memedulikan orang-orang yang lalu-lalang. Hingga persinggungan pun kerap tak terelakkan. Kadang aku mendapat umpatan jika korban adalah orang tua, kadang omelan jika korban tante-tante, dan sesekali bogem jika korban lelaki setengah baya. Namun aku tak pernah kapok, sampai akhirnya, pada suatu siang yang ramai, aku menabrak seorang anak kecil di tengah jalan pasar.
Saat itu, kebingungan meliputi pikiranku karena anak kecil itu jatuh terjengkang lalu menangis kencang. Sementara perhatian beberapa orang pasar tertuju ke arahku. Kucoba mengiming-imingi uang pada anak itu agar berhenti menangis tapi tangisnya malah makin menjadi-jadi. Beberapa orang mulai melangkah ke arahku. Melihat wajah mereka yang tak bersahabat, aku pun memilih kabur sebelum akhirnya mereka mencapaiku.
Aku berlari sekencang mungkin. Tapi orang-orang itu tampaknya tak mau membiarkanku. Mereka berteriak-teriak sambil terus mengejarku. Aku melirik kanan-kiri, mencari celah untuk bersembunyi. Sampai akhirnya aku memasuki sebuah rumah tua yang gelap dan tak berpenghuni. Rumah itu penuh sawang-sawang. Sejenak aku bisa meredakan napasku yang memburu. Kurencanakan setelah keluar dari rumah itu, aku akan langsung pulang karena sudah tidak memungkinkan lagi untuk bekerja.
Beberapa saat aku masih merasa aman di rumah itu. Tubuhku tetap bersandar penuh pada daun pintu. Mataku yang berkunang-kunang kembali terang. Namun kemudian aku terperanjat begitu kulihat ada foto berbingkai dikalungi rangkaian bunga yang telah mengering pada dinding. Wajah dalam foto itu persis seperti wajah gadis berpayung ungu itu. Di bawah foto itu, kulihat juga selaras payung ungu terlipat menggantung pada paku yang telah berkarat. Bulu kudukku sontak meremang. Tanpa pikir panjang lagi, aku keluar dari rumah itu berselimut ketakutan.
Orang-orang yang mengejarku ternyata masih berkeliaran di sekitar rumah itu. Tapi aku sudah tak memiliki pilihan lain kecuali mencari tempat persembunyian lain. Kucoba melangkah pelan sambil mengendap-endap. Tapi sial, kakiku ternyata terantuk kaleng bekas minuman. Kembali mereka menemukanku. Akhirnya dengan kekuatan yang tersisa, aku kembali mengambil langkah kencang, menyusuri jalan-jalan, menyelinap ke pagar-pagar, sampai aku menemukan tikungan menuju gang sempit.