“Jadi gini. Semalam aku diajak jalan ama Bagas. Aku diajak dinner di restoran mewah dengan lampu yang redup-redup gitu romatis,” katanya.
“What?” tanyaku dan Lala dengan ekspresi tekejut, “Kalian berdua, ngapain aja? Nggak ngelaku in macammacamkan?” berondong Angel. “Ah, ya nggaklah. Cuman pegangan tangan doang,” jawab Okta santai.
“Aku pengen juga. Kapan ya aku kayak gitu, Lala udah ada kak Aska. Okta udah ada Bagas. Aku masih jomblo. Jodohin dong aku ama mantan-mantan kamu. Mantan kamukan segudang,” ketus Angel ke Okta.
“Bekas aku masa kamu pungut sih, sayang?” jawab Okta sambil tertawa terbahak.
“Akukan belum jadian ama kak Aska, Beb. Jadi kita sama-sama jomblo,” sahutku.
“Tapi bentar lagi kalian pasti jadian,” sahut Angel dengan wajah sedih. “Sayang kamu nggak usah sedih. Aku dan Okta selalu ada kok untuk kamu disaat susah mau pun senang, kebahagiaankan nggak selalukan dengan pacar,” sahutku. Lalu kami bertiga pun berpelukan kayak Teletabis.
“Woii, pak Reza udah masuk tu,” kata salah seorang anak kelas.
“Oke, oke,”sahut kami serentak.
***
Selesai sarapan dan hendak kembali ke kelas tiba-tiba, usai istirahat, kak Aska menghampiri kami, “Boleh gabung ngak dek,” katanya.
Tak pakai basa-basi, Angel dan Okta langsung memperbolehkan tanpa bertanya dulu kepadaku. Kak Aska, kakak kelas ganteng, baik, hits, sholeh dan pintar. Angel dan Okta tahu bahwa kak Aska menyimpan perasaan padaku.
Beberapa menit kemudian anak-anak itu pamit dan memutuskan untuk duluan ke kelas. Aku jadi kesel karena ditinggal berduan dengan kak Aska. Aku ingin bertanya, seminggu ini tak melihatnya di sekolah, tapi kerongkonganku tersekat. Aku malu.
“Nih untuk kamu,” katanya sembari menjulurkan sebuah bingkisan kecil dari tangannya, “ini oleh-oleh untuk kamu, kamu pakai ya.”
“Boleh buka sekarang, kak?” tanyaku. Kak Aska mengangguk.