Perempuan, Tapi Bandel

Keesokan harinya wakil kesiswaan pun masuk ke kelasku, lalu memanggil namaku, Lala, Okta. Kami diperintahkan ke ruangan BK. Aku mulai cemas, Angel pun mulai panik. Entah apa yang kan terjadi pada kami sedangkan Okta santai saja seperti orang tidak bersalah, “Kapan lagikan kita bertiga masuk ke BK,” sembari merangkul pundakku dan Angel .

“Jangan cemas sobat, apa pun yang terjadi kita hadapi bersama. Kita jalani bersama,” sahut Okta lagi.

“Kalian perempuan, tapi bandel, apa untungnya kalian meninggalkan jam pelajaran, sekarang juga panggil orang tua kalian dan bawa ke sini,” katanya keras menggelegar.

Dua jam kemudian, kami bertiga didampingi orang tua, dinasehati guru BK dan wakil kesiswaan. Tak hanya itu, aku juga dimarahi oleh orang tuaku. Kami bertiga berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku menyadari sekolah itu harus serius, apabila ingin mencapai hasil yang memuaskan juga tidak boleh bolos karena akan ketinggalan pelajaran dan merugikan diri sendiri.

Ujian nasional pun sudah berakhir alhamdulillah kami lulus dengan nilai yang memuaskan. Ditengah kebahagian itu aku juga sedih karena akan berpisah dengan Angel, sobat terkonyolku, dan Okta sobat tergilaku. (*)

 

Siti Florensia Medeti. Penulis adalah siswa Kelas XII IPS 3, SMA Negeri 4 Payakumbuh

Arsip Cerpen di Indonesia