Keluarga Pelukis Kita

Si bungsu, bocah berusia tujuh tahun, biasanya lebih cepat bangun dari abangnya. Merangkul ibunya, sejenak bermanja, kemudian terus mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, dia salat subuh kemudian duduk di meja makan. Kakaknya yang berusia tiga belas tahun, kemudian menyusul. Mereka tidak banyak bicara. Semua dilakukan dengan rutin saja. Karena itu, di rumah yang luasnya hanya 45 meter persegi tersebut nyaris tidak ada keributan yang bisa mengganggu tidur nyenyak Pelukis kita.

Selesai sarapan, Si sulung kemudian memanaskan mesin sepeda motor, di luar pagar. Narni membereskan dandanannya. Menyapu wajah dengan krim pelembab, menepuk-nepuk pipinya sejenak lalu mengoleskan bedak warna natural, disusul lipstik warna merah maron, warna kesukaannya. Hal terakhir yang dia lakukan pada wajahnya adalah membetulkan alis. Karena itu, alisnya tampak selalu rapi dengan garis tegas. Itulah yang menjadi ciri khas keindahan wajah Istri Pelukis Kita ini. Semuanya dia lakukan tidak lebih dari lima menit.

Anak-anak berangkat ke sekolah. Narni mengantar mereka ke tempat pemberhentian angkutan kota, naik motor berbonceng tiga. Setelah melambaikan tangan pada mereka, dan melantunkan doa dalam hati agar anak-anak itu tumbuh tidak seperti bapaknya, dia kemudian membelokkan motor ke arah sekolah. Istri Pelukis Kita ini seorang guru sekolah dasar.

Lalu bagaimana dengan pelukis kita?

Ya, dia begitu-begitu saja. Sekitar jam sembilan pagi, baru matanya terbuka. Bangun tidur, dia akan meraih telepon genggam yang ikut tergeletak tidur di sampingnya. Memeriksa obrolan-obrolan tak berguna di grup-grup whatsapp, tersenyum kecil saat menghadapi teks yang dia rasa lucu. Setengah jam, kadang bisa lebih, dia berada di kondisi sadar tak sadar seperti itu. Kalau terasa obrolan di whatsApp, cuitan di twitter, atau status di facebook mulai membosankan, dan perutnya terasa lapar pula, dia akan bangkit. Berjalan sempoyongan menuju dapur. Kalau di sana ada kopi yang ditinggalkan istrinya, dia minum. Tetapi kalau tidak, dia akan membuatnya sendiri, segelas kopi pahit.

Arsip Cerpen di Indonesia