Keluarga Pelukis Kita

Tanpa mandi dan gosok gigi, juga tanpa salat subuh, dia bawa kopinya ke ruang samping, sebuah studio, tempat dia bekerja, sebagai pelukis. Kalau hatinya sedang cerah, mungkin kala doa-doa istrinya tersampaikan oleh malaikat, dia akan meletakkan gelas kopinya di meja kecil di ruang studio itu, kemudian balik ke rumah, berwuduk dan salat, entah salat subuh atau duha, dia tidak memikirkannya. Dia suka salat dengan caranya sendiri, dengan kalimat berupa doa yang dia karang sendiri pula. Selalu dia berpikir kalau ahli fiqih itu tidak benar-benar mengerti jiwa manusia, sehingga dia tidak perlu beribadah mengikuti aturan fuqahat. Kadang dia diam saja dalam salatnya, terpana tanpa gerakan apa-apa. Kadang dia lafalkan ayat Alquran dan doa-doa yang dulu semasa muda sempat dia pelajari di sekolah agama. Sering pula dia rentangkan tangannya lebar-lebar sambil mulutnya membisikkan: Allahu… ya huu

Di saat pelukis kita menapaki jalan pembebasan jiwa, anak-anaknya sedang berkutat dengan aneka pelajaran di sekolah, aneka rumus dan teori. Istri juga sedang sibuk dengan berbagai aturan yang dibuat agar anak-anak didiknya patuh dan taat.

Pelukis Kita, kadang bertelanjang di dalam studio. Ada lembar besar cermin pecah tertempel di dinding, memantulkan sosoknya yang bugil. Sudah banyak lukisan bagian-bagian tubuh dia buat, baik abstrak maupun realis. Tubuhnya sendiri, tubuh lelaki. Lukisan itu tak pernah laku terjual. Kebanyakan pesanan orang adalah lukisan bunga-bunga atau pemandangan alam. Tetapi Pelukis kita tak pernah bosan melukis bagian tubuhnya yang tersembunyi. Lukisan penis dengan bisul pecah di pangkalnya dan meneteskan cairan nanah. Lukisan hati yang dimakan ulat-ulat kecil, atau lukisan ginjal yang ditindih batu besar.

Selesai mengajar, jam dua siang, Istri Pelukis Kita tidak langsung pulang. Dia punya jadwal tambahan mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar. Anak-anaknya juga begitu, usai sekolah mereka langsung pergi ke tempat penambahan belajar. Setelah itu disambung dengan belajar menghafal Alquran. Istri ingin anak-anaknya mendapat nilai seratus di setiap mata pelajaran juga menjadi penghafal Alquran. Istri mau anaknya menjadi dokter di hari depan. Sekarang untuk menjadi dokter anak-anak harus hafal Alquran. Begitulah. Mereka kemudian sampai di rumah dekat azan magrib.

Arsip Cerpen di Indonesia