Seni Menangkap Ikan

“Ikan bukan lawan, kemarahan hanya cocok untuk perang,” ucap perempuan itu, sembari memainkan air kolam, hingga airnya bergerak-gerak resah, dan ikan di bawahnya berlari ketakutan.

“Menangkap ikan perlu seni. Bukan cuma berani,” tukasnya, dengan bibir sedikit tersenyum.

Aku menyeringai, mungkin juga berkerut kening. Perlahan, perkataannya menjelma gong yang dipukul dengan keras, bergema, terus bergema, hingga membuatku mematung kebingungan.

“Seni?” gumamku, mungkin dengan wajah mengejek.

“Dasar perempuan,” umpatku pula dalam hati.

“Ikan memang hidup untuk dimakan. Tapi menangkapnya tidak dengan ketamakan.”

Perempuan itu sambil terus memainkan air kolam: dipukul-pukulnya, dengan mata lekat menatap ikan yang berlari ketakutan.

Ia memunggungiku. Aku berselonjor di bibir kolam dengan celana dan baju basah. Perempuan itu duduk di depanku dengan mata yang tak sedetik pun mau menatapku. Hanya dari mulut dengan bibir yang lembut dan merah alami (tanpa gincu) itu perkataannya tertuju kepadaku. Selebihnya, segala badan dan wajahnya seakan enggan besitatap denganku.

***

Aku berada di kolam ini karena ibu. Ia memaksaku membeli ikan di rumah Mbok Sutija. Ibu takut Ayah marah jika sarapan pagi kami tidak terhidang ikan yang dimasak sambal. Ayah berangkat kerja pagi, pulang malam hari, atau bahkan tak pulang sama sekali. Tapi ibu selalu siaga menyediakan ikan-ikan untuk menyambut kedatangan ayah. Karena jika tidak, rumahku akan ramai dengan suara pecahan piring, yang dihiasi maki ayah dan tangis ibu yang ditamparnya. Biasanya Mbok Sukina— pembantuku—yang membeli ikan untuk dimasak ibu. Tapi pagi itu, Mbok Sutina pulang kampung. Dengan terpaksa aku yang mengantikannya.

Arsip Cerpen di Indonesia