“Mereka yang hanya tahu makan ikan, akan kesulitan menangkapnya. Karena ketamakan saat memakan ikan menghantui kepala mereka. Sifat kasar, tergesa-gesa dan pemarah muncul di benak mereka saat menangkap ikan. Mereka sudah terbiasa tamak sejak dalam pikiran!” kali ini mata perempuan itu lekat menatapku, dengan raut wajah merah padam, menyimpan amarah.
“Menangkap ikan perlu seni, bukan ketamakan,” suara perempuan itu terdengar seperti mengeluh, wajahnya mulai redup menyimpan pilu.
“Kau terlalu berlebihan menyikapi hal-hal yang sederhana. Seni! Hem. Seni hanya ada pada lukisan, puisi, dan berbagai hal penting lainnya. Ikan tidak terhitung seni. Seni hanya untuk hal-hal penting dan bernilai tinggi. Hanya saja kamu yang terlalu melebih-lebihkan sesuatu. Bilang saja ‘pelan-pelan saat menangkap ikan’, tak usah kau menyebutnya dengan seni!” Ucapku dengan suara agak meninggi, sambil sesekali dihiasi senyum sinis.
“Aku rasa kau terlahir dari keluarga pemakan ikan, bukan penangkap!” Ia diam sejenak, mendengus panjang. “Seandainya saja engkau berteman dengan ikan, apalagi sampai berteman akrab. Apa yang akan engkau lakukan saat ikan (temanmu itu) mati di bunuh dengan sengaja, tanpa rasa bersalah, dan dimakan di hadapanmu?”
Ia diam lagi, seakan sengaja memberiku kesempatan untuk berpikir.
“Setidaknya, di detik-detik akhir hldupnya, kita memberi kelembutan dan kasih sayang dengan seni menangkapnya!” suara perempuan itu terdengar pelan, seakan mengiba.
Aku berpikir sejenak.
Dan perempuan itu turun ke dalam kolam, hingga separuh badannya basah. Dengan sangat pelan ia berjalan, seakan tak ingin satu ikan pun merasa terganggu dengan kehadirannya. Aku mengamatinya dengan seksama. Semakin Perempuan itu mendekati ikan, semakin pelan ia berjalan. Hingga saking pelannya tak nampak riak airnya, dan ikan-ikan di dalamnya pun tak merasakan kehadirannya.