KEMUDIAN meletus pemberontakan G30S, hingga orang tak berani berbuat aneh-aneh dan melakukan hal yang mencurigakan. Aku tiarap, tapi tetap berharap masih bisa menemukan harta emas sekaleng biskuit itu. Tapi semakin mencemaskannya karena harta emas itu semakin sering-liar dan tidak terduga-berpindah-pindah di area sekolah itu. Dan kata si Dukun, bila telah kedaluwarsa (perjanjiannya), maka harta emas itu akan hilang dibawa pergi oleh Ifrid, dan mungkin akan berada di mana saja di seluruh dunia ini. Karena itu, aku mendekati seorang Letnan dan malahan mandah menjadi selir, target hobi seksualnya, agar dilindungi dan aman bisa mengambil harta itu. Dan dengan membujuknya, aku mengarahkan agar ia mau mengambilkan harta itu untuk aku-ia akan mendapat bagian separuhnya. Ia tertarik. Lantas menghubungi Ki Dukun-langganan-dan berbicara tentang cara aman mengambil harta itu. Ki Dukun menggeleng, dan-sekali lagi-kembali ia bilang, buat aman mendapat harta dan mengambilnya, kami harus berani mendatangkan tumbal, memotong leher serta memercikkan darahnya ke tempat di mana harta itu saat itu disembunyikan. “Berani?” katanya.
Ia diam. Aku telah punya calon algojo untuk menyembelih tumbal, bahkan aku telah mendapat orang yang mau ditumbalkan asal keluarganya mendapat bayaran yang pantas. Memang. Tapi Si Letnan membisu. “Ini adalah pembunuhan,” katanya. Dan aku tergagu. Kami membisu, hubungan kami merenggang. Dan sampai saat ini, menginjak ke milenial baru, aku tidak pernah bisa mengambil harta emas itu. Padahal itu harta kami, padahal itu barang dagangan kami, padahal itu modal kami. Menyedihkan sekali. Aku tetap jualan kue basah. Kini aku punya kios, di tanah sendiri, di tepi jalan provinsi, dengan tingkat duanya jadi rumah tinggal, dan punya dua pegawai. Sedangkan dua anakku lulus PT, bisa bekerja di perusahaan swasta, dan punya posisi enak hingga bisa hidup mapan dengan istri dan anak mereka. Dan kata si Dukun itu-sebelum meninggal sekitar 25 tahun yang lalu-harta itu kini telah menghilang dari area sekolahan itu. Entah ada di mana dan malah mungkin disembunyikan jauh di bawah kerak bumi karena Ifrid merasa bahwa itu (kini) mutlak miliknya. Aku menggerutu, marah kepada suamiku yang tak meninggalkan jejak kunci pembuka harta itu.