Ketika tubuh makin letih, ketika usia makin memberat bagai bulir padi yang makin matang dan menyeret batang padi untuk melengkung lalu patah membenamkanku ke dalam tanah becek-sambil teringat telah berapa kali aku membatalkan untuk bunuh diri karena ingat nasib anak-anakku yang tanpa orang tua lagi dan tanpa ada kerabat yang mau mendukung mereka, setidaknya tidak akan ada keluarga dari pihak suami yang mau peduli karena Lu Ng Wee telah pergi meninggalkan Kang Lam bertahun lalu-aku berjanji akan menghadap Raja Akherat, mengadukan nasib buruk karena strategi dagang suamiku, karena teknik pengamanan harta suamiku itu dengan membayar (tumbal) Ifrid, penderitaan yang membuat aku terkoyak-koyak didera derita sepanjang hidup. Dan (karenanya) Lu Ng Wee harus membayar-kontan-di Akherat. Harus begitu, tidak peduli hal itu membuat aku mati dengan tubuh separuh mlintar dan mata membelalak, melotot.
Beni Setia, pengarang, tinggal di Caruban, Jawa Timur.
Catatan
– Pracangan: barang-barang kecil kelengkapan/kebutuhan dapur/rumah tangga
– Klontong: barang-barang kecil pabrikan kelengkapan/kebutuhan rumah tangga
– (Sumur) wurung: (sumur) yang tak dipakai lagi dan dibiarkan telantar
– Ringroad: jalan lingkar
– Ifrid: sejenis jin yang berkelakuan buruk/jahat
– Tumbal: nyawa orang atau sesuatu yang sengaja dikorbankan sebagai bayaran
– Mlintar: berpilin, dalam kondisi terpilin dalam kebekuan laku sebuah spiral