“Tidak, Patih. Justru memang itulah yang terlintas dalam pikiranku sedari kemarin. Jika kau mengatakan itu, maka benarlah adanya bahwa keputusan itu memang harus segera kita lakukan. Menurut ahli nujum kerajaan, musim kemarau sebenarnya akan segera berakhir. Namun, perut rakyatku tidak akan mampu bertahan selama itu. Patih, kutitahkan kepadamu, bagikan 100 keping uang perak kepada setiap kepala keluarga. Atur pembagian uang itu dengan baik, Patih!” Demikian perintah raja kepada Mahapatih Jogo Cingkir.
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ahli nujum itu makin tampak keparat. Ia sampaikan dengan penuh keyakinan kepada raja bahwa kemarau segera berakhir. Raja percaya. Namun kenya taannya berbeda. Lambat laun, kepercaan itu mulai pudar. Sama pudarnya keper ca yaan raja kepada patih.
Berdasarkan berita yang dikabarkan telik sandi istana, Mahapatih kini terlihat di atas angin. Hidupnya bergelimang kesenangan duniawi. Setiap malam purinya selalu ramai wanita-wanita cantik, aroma arak dan alunan gending bertalu-talu. Ketiganya telah menjadi pelengkap hidup dan kesenangan Mahapatih Jogo Cingkir.
Di bawah langit biru yang sangat biru, raja dalam penyamaran yang perlente berjalan menyusuri beberapa jalan se tapak di pinggiran desa. Sang raja dengan kepiawaiannya bertanya kepada seorang sudra seputar jumlah uang yang diterimanya. Raja kembali melanjutkan perjalanan. Ia tanyai lagi seseorang yang ada di sebuah pasar. Ternyata jawaban yang ia terima sama: 80 keping uang perak. Sungguh jawaban itu membuat raja murka.
Raja memanggil Mahapatih. Dengan ciri khas raja yang budiman, ia mampu menahan segala emosi yang berkecamuk di dada. Raja tetap bertutur santun. Mengolah retorika sarkasme menjadi untaian kalimat yang tetap memanusiakan lawan bicara. Namun keputusan tetaplah keputusan. Raja memberhentikan Mahapatih dari kedudukannya. Mahapatih telah dianggap menyalahgunakan kepercayaan raja.
Sementara itu, Mahapatih tidak bisa menerima keputusan raja. Diam-diam ia melakukan pergerakan yang konyol. Benarbenar konyol. Akalnya pasti telah koyak. Ia lakukan apapun demi lencana kehormatan yang sudah tersemat di dadanya selama 25 tahun ini.
Rakyat dikumpulkan di sebuah area yang sangat lapang. Rakyat dengan penuh semangat berdatangan. Panas yang menggila tak lagi mereka hiraukan. Yang ada dalam pikiran mereka adalah pemberian 80 keping uang perak lagi. Ternyata, jauh panggang dari api. Makian dan intimidasilah yang kami, para rakyat jelata terima.