Balada Negeri Simalakathur

Seketika itu kakek Wiryapergi menghilang dengan tongkatnya yang kumal. Aku mencoba berlari kencang mengejar kakek misterius itu. Tenagaku terkuras, napasku tersengal. Kakek Wirya sudah tak tampak. Tapi aku terus mengejar. Kakiku terkulai saat membentur sebuah batu cadas.

“Aduuuuhhhh!” Aku menjerit keras. Ayah dan ibu merapat bergerak menghampiriku. Ternyata, pengejaranku kepada Kakek Wirya berakhir di dapur rumahku sendiri. Sontak ibu marah-marah ketika minyak di penggorengan tumpah dan jelantah yang lain berhamburan bersama cingkir-cingkir yang ada di sekelilingnya. Tentu saja, karena aku berlari dengan mata masih terpejam.

Aku mencoba melupakan mimpi itu, dalam tahajudku yang teduh. (*)

 

Army H. Alumnus FBS Universitas Negeri Yogyakarta, 2004. Kini mengajar bahasa dan sastra di SMK Muhammadiyah 2 Genteng.

Arsip Cerpen di Indonesia