“Hei, kalian para sudra jelata sungguh tak tahu diuntung! Aku satu-satunya orang yang mampu membujuk raja untuk memberi sejumlah uang untuk kalian. Aku yang bermalam-malam memikirkan cara agar perut kalian terisi. Jawab dengan lantang, siapa yang telah menyelamatkan hidup kalian? Ayo jawab!!!”
“Mahapatih Jogo Cingkir!!!” Mereka serempak, bahkan beberapa orang menjawab sambil melompat tinggi. Begitulah suasana sore itu.
“Siapaaa?” Dengan mata melotot dan suara yang meninggi, Mahapatih bertanya sekali lagi.
“Mahapatiiiih!!!” Jawaban yang juga semakin lantang terdengar.
“Tapi berani-beraninya kalian berkhianat. Kalian lupa pesanku?” Mahapatih terus saja berusaha menarik perhatian rakyat.
“Wahai rakyat, hidupku terancam. Jabatanku terancam. Maka bisa kupastikan, hidup kalian juga terancam. Tanpa aku, tamatlah hidup kalian!”
Rakyat berbisik-bisik dengan sesama jelata di sampingnya. Sebagian yang lain menunduk ketakutan. Aku hanya memandang lurus ke mata Mahapatih. Kuselami kedua mata nyalang itu. Mata penuh kelicikan.
Aku seketika terkejut ketika Kakek Wirya menepuk pundakku. Kakek renta yang hanya rangka tulang berbalut kulit itu hendak menanyakan maksud kata-kata Mahapatih. Tetapi belum sempat kujawab, Mahapatih melanjutkan nyaring gaungnya kembali.
“Jika kalian masih ingin selamat, sampikan kepada raja bahwa 20 keping perak yang kalian berikan padaku ialah sebatas tanda ucapan terima kasih. Kalian berikan itu secara suka rela. Awas, jika sampai terjadi pengkhianatan lagi, algojoku siap memenggal kepala kalian, paham?”
“Edyann! Ini ibarat makan buah simalakathur. Serba salah,” gumam Kakek Wirya. Aku pun menimpali.
“Kek…bukan simalakathur, tetapi simalakama.”
Dan jawaban terakhir kakek Wirya begitu mengesankan.
“Ah, itu kalau kita sedang di negeri yang benar, kalau di negeri gila seperti ini, peribahasa pun sah-sah saja jika ikut salah. Ya, kita memang sedang berada di Negeri Simalakathur, anak muda! Kita diam berarti kita melindungi kelicikan punggawa kerajaan. Kita jujur, maka kita sendiri yang akan hancur.”