Dalam Mimpi pun Kita Tak Bertemu

Mataku berembun. Aku telah menjaga cintaku selama dua puluh lima tahun pada lelaki yang menjadi suamiku. Melayani sepenuh hati, meski akhir-akhir ini aku mulai bertanya-tanya, cinta ataukah iba yang menyemak dan membelukar. Setiap memandang dan membelai wajahnya, menceritakan segala gundah—walau kutahu aku tak akan pernah mendapat jawaban—aku seperti memasuki rumah tua yang kosong dan sunyi.

“Kau punya anak-anak. Aku pun begitu. Kenapa kau mesti merasa sepi?” tanyaku lirih. Sekuat tenaga kubendung setitik air mata yang hendak tumpah.

“Kita sama-sama telah menua, Maena. Ada yang tak bisa digantikan anak-anak. Dan kurasa kau paham,” katamu sambil menghela. Lalu kau aduk es kelapa muda di hadapanmu yang tak lagi dingin.

Ah, betapa inginnya aku menganyam kembali cinta yang tercerai-berai padamu selama ini. Betapa lama hati ini sunyi dan merindui kebersamaan di tahun-tahun lampau. Ingin kuiyakan saja permintaanmu, lalu melupakan suamiku. Dan anak-anakku yang telah tumbuh mesti mengerti tentang kesepian dan hati ibunya.

Namun lagi-lagi matanya mendekapku erat. Ia memang sudah tak bisa apa-apa. Tapi matanya yang teduh itu masih bisa merangkulku. Saat kubelai rambutnya, membersihkan kotorannya, memandikannya di tiap pagi dan sore hari atau di sela-sela istirahat—atasanku sengaja tak membebaniku dengan pekerjaan rumit atau dinas luar kota karena ia mengerti keadaanku—aku seakan melihat matanya menjadi bibir dan berkata “terima kasih”. Bagaimana mungkin aku bisa tak memahami bahasa di matanya, meski aku tahu, aku telah terlampau lelah?

“Memang kau masih punya suami, Maena. Tapi kau berhak melupakannya. Ia tak mampu menafkahimu. Aku cinta kau. Dan aku yakin, kau pun begitu,” katamu lagi.

Aku gemetar. Sekali lagi bibirku ingin berkata “iya”, tapi bayangannya menahanku. Ia membawaku melihat masa lalu, ke rumah tua di seberang laut yang kutinggalkan untuk kembali ke tanah kelahiran.

Tahun lalu aku mengurus pindah. Anak tertuaku telah menikah dan anak kedua kuliah di sini, di kota kelahiranku. Aku tak perlu mengurus anak tertua sebab ia telah punya hidup sendiri. Maka kuputuskan untuk menemani si bungsu sambil mengumpulkan semangat masa kekanak di tiap sudut kota yang tak lagi seperti dulu.

Angin pantai mulai dingin. Badanku kian gigil. Ingin aku memutar waktu kembali seperti dulu. Atau memaksa Tuhan menjadikannya pendampingku. Tapi yang hadir di hatiku hanya gerimis. Rintiknya merajam dadaku.

Arsip Cerpen di Indonesia