“Aku cinta kau, Arya. Tapi aku perempuan setia,” kataku akhirnya. Terbata-bata. Dan setetes air mata yang sedari tadi kujaga tumpah. Kau menghela, lalu beberapa kejap wajahmu tertunduk. Sempat kulihat bola matamu basah. Ah, kenapa aku terlalu pengecut untuk memperjuangkan kesempatan kedua yang datang agar kita hidup bersama?
Air mataku benar-benar meluap. Aku sungguh lelah. Telah kutinggalkan ia berulang kali di senja yang indah untuk bernostalgia bersamamu. Tapi aku tak sanggup melepasnya. Matanya selalu mendekapku, memintaku sedikit lagi untuk lebih tabah. Dan aku tak kuasa menolaknya. Sepulang berjalan bersamamu di senja terakhir itu, aku pulang dan duduk di tepi ranjang, memandangnya yang terlelap tak berdaya. Kukecup keningnya. Kubanjiri matanya yang terpejam dengan air mataku. Ia membuka matanya dan menatapku. Dan aku tak lagi tahu, air mataku atau air matanya yang lebih banyak tumpah malam itu.
Tersuruk-suruk aku meraih serpihan cinta yang bertebaran dan berganti iba padanya sejak ia tak lagi bisa apa-apa. Tapi telah kukatakan padamu, aku seorang perempuan setia. Aku akan menjaganya, meski kutahu aku terlampau lelah dan senja-senja itu membuatku kembali mencintaimu.
***
Malam itu, engkau hadir dalam mimpiku. Kita tengah memandang taman yang sama. Tapi kau hanya diam. Aku berharap engkau menyapaku, mengajakku mengelilingi taman bunga itu. Kita memang telah sama-sama menua. Tapi menikmati cinta, bukankah tak hanya milik pemuda saja?
Beberapa jenak kutunggu engkau menghampiriku, namun engkau tak juga datang. Kau hanya memandang bunga cempaka dan melati yang sama-sama putih. Sementara aku hanya mampu memandangmu dari jauh, sampai kau menghilang pergi. Begitu terbangun dan membuka mata, kurasakan ada riak di mataku. Oh, bahkan dalam mimpi pun kita tak bertemu.
Siang itu, kuterima undangan pernikahanmu. Aku tersenyum getir. Dulu, kau sampaikan kabar pernikahanmu lewat surat setelah berbulan-bulan lamanya suratmu menghilang dan aku mulai belajar untuk melupakan. Huruf-huruf di surat itu luber bercampur dengan air mataku. Kini, air mata yang sama memenuhi kertas undanganmu.
Hari ini adalah hari pernikahanmu yang kedua. Aku telah menyiapkan kebaya coklat muda untuk menghadirinya. Tapi seperti dulu, aku sungguh-sungguh ditakdirkan tak pernah hadir di pesta pernikahanmu. Sebab pagi tadi, suamiku pergi membawa seluruh serpihan hati yang sedang kukumpulkan tertatih-tatih. Ia meninggalkanku setelah matanya menatapku lama sekali, seakan berterima kasih atas cinta dan pengorbananku selama ini.