Air mataku tumpah lebih banyak di bawah kamboja siang itu. Aku telah kehilangan engkau, juga kehilangannya di hari yang sama. Andai saja engkau lebih gigih berjuang dan mau menungguku sebentar saja, barangkali kita akan menua bersama. Tapi siapa yang tahu?
Aku tersedu melepas kepergianmu. Juga kepergiannya. Tapi ada yang tak pernah kusesali setelah ini. Bahwa aku tak pernah kehilangan setia. ***
Rumasi Pasaribu. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Tulisannya dimuat di beberapa antologi dan surat kabar. Saat ini berdomisili di Kota Bengkulu.