Supar Anak Siluman

Hanya satu anak didik yang tak menggambar gunung, bahkan tak menggambar pemandangan seperti ia minta. Supar, anak itu, malah menggambar orang bertinju. Gambarnya amburadul, hanya goresan pensil, tanpa warna. Tubuh orang yang ia gambar pun hanya sebesar garis. Kepala orang itu seperti koin, tak mempunyai mata dan telinga.

“Bukankah Bapak minta gambar pemandangan?” tanya Pak Ali.

“Bapak bicara dengan saya?”

“Iya, kamu. Siapa lagi?”

“Nama saya Supar, Pak.”

“Iya, Bapak tahu. Jawablah pertanyaan Bapak.”

“Saya tak bisa menggambar pemandangan.”

“Kalau bukan gunung, kamu bisa menggambar pantai.”

Nggak mau!”

“Kenapa?”

“Banyak orang pacaran di sana. Aku nggak bisa menggambarnya.”

“Kalau begitu, gambar taman saja ya.”

Nggak mau, banyak sampah di sana. Kan aku suka kebersihan.”

“Ya sudah, yang penting selain orang tinju.”

“Tinju kan juga pemandangan, Pak. Kalau bukan pemandangan, tak bakal kita bisa melihatnya.”

Pak Ali bernapas lega. Supar ternyata berpikiran amat dewasa, jauh melebihi teman sebaya. Ia kemudian berkeliling lagi dan berujar dalam hati, “Benar juga, hampir semua anak menggambar gunung dengan warna dan letak yang sama. Akankah mereka kelak bisa mengubah dunia? Atau malah tunduk sebagai pegawai yang ditindas penguasa?”

***

Sebentar lagi kenaikan kelas. Pak Ali harus menyiapkan nilai dengan matang. Jangan sampai ada anak didik tinggal kelas, meski ia harus menaikkan nilai secara paksa. Alhasil,semua murid naik kelas. Saat pulang, ia membawa buku-buku ulangan dan buku gambar mereka. Hitung-hitung, lumayan, dapat dijual kiloan.

Sampai di rumah, Pak Ali tak langsung mengemasi dan menjual buku-buku itu. Ia ingin melihat goresan tinta dan warna anak didiknya, terutama Supar yang unik itu. Ia memang jarang mengecek gambar mereka. Tanpa melihat karya mereka, ia langsung memberikan nilai tertinggi untuk satu kelas karena mereka sudah berusaha keras.

Arsip Cerpen di Indonesia