Supar Anak Siluman

Pak Ali kaget. Dalam buku Supar, sejak awal hingga akhir halaman, hanya ada gambar orang bertinju atau baku pukul. Ia pernah meminta Supar menggambar pemandangan di papan tulis. Alih-alih menggambar, Supar malah menangis.

Saat semua buku ia kemas menjadi satu, bertumpuk-tumpuk menjulang, siap jual kiloan, ia menyisihkan buku gambar Supar. Ia ingin menjadikan buku itu sebagai kenang-kenangan, sekaligus mencari tahu ada apa dengan anak itu. Apakah Supar bercita-cita jadi petinju?

***

Supar anak dari Desa Kebonjambu. Daerah kumuh yang belum teraliri listrik. Ia hidup bersama keluarganya. Bersyukur, iya, karena memiliki ayah dan ibu. Namun bahagia? Jelas tidak! Ia anak tunggal dan harus bekerja keras tiap hari. Sepulang sekolah dia berjalan menuju kota untuk menjajakan koran. Tanpa alas kaki, sengatan panas matahari tak ia hiraukan, asal pulang bawa uang. Jika tidak, ia akan disiksa habis-habisan oleh ayahnya.

Setengah hari penuh ia berjualan hingga peluh terasa asin di lidah. Senja menyurut hendak digantikan purnama. Langit merah itu menjadi saksi perjalanan pulang Supar. Senja yang diagung-agungkan banyak orang serasa tak berarti di hadapannya. Percuma senja yang cantik melukis langit, karena tak bisa memberinya makan.

Di depan pintu rumah, langkahnya tiba-tiba terhenti oleh teriakan-teriakan mencekam. “Janganjangan kau selingkuh lagi ya!”

“Jaga mulutmu! Aku bekerja seharian, pulang untuk kalian, dan sekarang kautuduh aku selingkuh?”

“Kenapa? Kau tak terima?” ucap ibu Supar dengan wajah berkerut amarah.

Supar melihat dari celah-celah dinding rumah. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Dulu hatinya berdegup kencang saat melihat hal yang sama. Sekarang sudah terbiasa.

“Lama-lama kau berani juga ya, omong kosong dengan cinta!”

Plak! Plak! Plak!

“Tampar saja aku! Pukul saja aku sebelum Supar pulang! Pukul aku sepuasmu!”

“Dasar perempuan makin kurang ajar saja. Sana pergi, bawa sekalian anak siluman itu!”

“Kaulah siluman itu!”

***

Arsip Cerpen di Indonesia