Di kelas yang baru, Supar kembali bersekolah. Tahun ini ekspresi wajahnya makin datar, senyum tipisnya sirna.Tubuhnya mengering, kurus. Buku-bukunya ia beri nama dan nomor absen seperti biasa. Bedanya, di kolom nama tertulis: Supar Anak Siluman. (28)
Hidar Amaruddin, lahir di Kudus, 16 Desember 1995, penulis musiman berdomisili di Semarang. Kini, dia sedang menyiapkan buku sastra pertamanya.