Kaki Sewarna Tanah

“Ayolah. Supaya ayah bisa hidup lebih nyaman,” bujukku lagi, menggunakan kata nyaman alih-alih berkata agar tidak ada lagi tetangga yang mengolok. Tetangga baru kami, penghuni rumah-rumah megah itu, konon telah membujuk dan mengim-ingimingi ayah dengan berbagai hal. Kudengar banyak yang telah punya rencana bila ayahku mau melepaskan tanah dan rumahnya. Upaya mereka tak pernah berhasil.

“Lihat. Ayah sudah punya rumah ini sebelum menikah dengan ibumu dulu. Kau punya apa? Belum juga mampu untuk membangun rumah sendiri, sudah berlagak ingin membangunkan ayah rumah?”

Beberapa menit aku terdiam demi mengartikan kalimat ayah, apakah maksudnya menyindir atau justru menyemangatiku.

***

Maka, kuputuskan untuk bekerja lebih keras lagi. Untuk menunjukkan bahwa aku mampu hingga ayah tak akan menolak segala saran dan permintaanku. Lima tahun berselang, kupenuhi tantangan ayah untuk memiliki rumah sendiri untuk kutempati bersama istriku setelah menikah setahun sebelumnya.

Baca juga: Arti Sesak di Dada Fahrie – Cerpen Muhammad Nur Iskandar (Republika, 09 Desember 2018)

Langsung kuboyong ayah ke rumahku yang baru di pusat kota, rumah yang tak kalah megahnya dari tetangga-tetangga ayahku yang bermulut pedas. Wajah ayah datar saja, tak menunjukkan raut senang atau sebaliknya. Tak dapat kutebak isi hatinya, walau menurutku, seharusnya ia senang sebab aku telah mewujudkan mimpiku.

Namun, berada di rumahku yang amat kontras dengan rumah yang telah ditempatinya selama puluhan tahun, ia terlihat linglung. Ia canggung berhadapan dengan segala perkakas modern. Apalagi ketika istriku memberi ayah sepasang sandal rumah untuk melindungi kakinya yang penuh kapalan dari lantai yang dingin, jelas kulihat ia merasa tak nyaman. Hanya demi menghargai menantunya, ia menyeret sandal berbulu itu ke sana kemari.

Tiga hari menginap, ayah memutuskan pulang! Kukira ia tak betah, namun ia berkilah dengan mengatakan tak baik rumahnya dibiarkan kosong untuk waktu yang lama.

“Ayah pasti kesepian di sana. Kita sewakan saja, Yah, biar ada yang menempati.”

Tapi ayah menolak. “Rumah buruk begitu, siapa yang mau menyewa?”

Arsip Cerpen di Indonesia