Ingin kulontarkan jawaban mungkin sebaiknya rumah itu dijual saja, namun kuurungkan niatku. Dapat kutebak bahwa ayah masih belum mengubah pendiriannya. Usulku untuk merenovasi yang kusampaikan beberapa kali lagi pun tetap ditolaknya. Diam-diam, sebagai anak yang mengerti segala perjuangannya, aku merasa gagal. Gagal menyenangkannya.
“Tidak perlu khawatir. Ayah tak akan kesepian. Ayah bisa men dengarkan radio atau menonton televisi.”
Aku tahu ayah tak menggandrungi benda-benda elektronik itu. Aku yakin, sejak kuletakkan televisi berukuran besar di ruang tamunya, tak habis hitungan kedua jari tangan ia pernah menyalakannya. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan memulung barang-barang bekas di luar rumah, membuatku menerima olok-olok yang lebih menohok lagi.
Paginya, ketika aku bersiap untuk berangkat ke kantor, ayah juga mengemasi barang-barangnya. Ia memilih kembali ke rumah buruknya yang bersanding rumah-rumah megah. Kuputuskan untuk mengantarnya sendiri alih-alih meminta bantuan sopir.
Baca juga: Hikmah – Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 Desember 2018)
Aku menduga, ayah tidak mau menjual atau merenovasi rumah itu karena alasan melankoli romantik ini: rumah itu penuh dengan kenangan bersama ibu yang lebih dulu berpulang dua puluh tahun lalu. Di sanalah mengalir cinta, peluh, bahkan darah dalam perjuangan hidupnya. Semua menyatu, seiring waktu mengkristal menjadi kenangan. Dan, kenangan tak dapat dibeli dengan uang.
Setiba di rumah, ayah kembali terlihat lebih hidup. Ia mondar mandir ke sana kemari bertelanjang kaki, sementara aku tak melepas sepatu pantofelku yang hitam mengkilat. Kami duduk di bangku kayu, dekat lemari perkakas dapurnya yang butut.
Dengan suara selembut mungkin, aku memberanikan diri bertanya. “Yah, apa sebenarnya yang membuat ayah enggan menjual rumah ini? Aku bahkan bisa membuat rumah yang lebih indah dari yang bisa ayah bayangkan.”
“Ayah tahu kamu terusik dengan komen tar-komentar tetangga, tapi ayah tak akan berubah pikiran. Jangan paksa ayah. Tolong.”
Aku membisu. Selama ini kami saling mendiamkan komentar-komentar buruk para tetangga, tak pernah membahas, apalagi membalasnya. Jawaban yang kuharapkan tak kuperoleh.