Kaki Sewarna Tanah

“Ayah tak menginginkan rumah, apalagi yang megah,” katanya lagi. “Bagaimana pun, rumah abadi kita adalah tanah. Tubuh ini pun terbuat dari tanah. Di penghujung usia ini, ayah ingin selalu berdekatan dengan tanah. Mengakrabkan diri dengannya.”

Aku menunduk, memandangi kaki ayahku yang entah bagaimana, terlihat menyatu dengan warna lantai dapur ini. Kaki itu lalu menggosok-gosok tanah dengan pelan, seolah menyapanya.

“Pergilah! Nanti kau terlambat bekerja …” Ayah bangkit. “Tidak usah khawatirkan rumah ayah. Setelah ayah mati nanti, kau bisa segera menjual atau merenovasinya. Biarkan rumah ayah sebagaimana adanya, sebentar lagi.”

Baca juga: Paket Terakhir- Cerpen Syahirul Alim Ritonga (Republika, 11 November 2018)

Aku tersentak. Dibanding olok-olok tetangga, kalimat ayahlah yang terasa paling menohok. Tak kutemukan lagi kalimat untuk menjawabnya.

Sembari berjalan keluar, mataku menelusuri setiap inci permukaan yang kulihat. Tak ada lagi permukaan tanah yang tampak sejauh mata memandang. Jalan, trotoar, parit, bahkan pekarangan setiap rumah telah tertutup oleh berbagai material yang bukan tanah. Entah aspal, semen, rumput hias, apa pun. Hanya rumah ayahku yang masih berlantai tanah, lantai dapurnya.

Mata ayah lekat memandang pergerakanku, mulai dari menyalakan mesin, memutar mobil hingga melajukannya ke luar komplek. Lewat kaca spion, kulihat ayah masih mengawasiku. Tubuhnya tampak mengecil. Tiba-tiba aku tergugu. Bayangan ketika hari ayah akan meninggal membuat dadaku sesak.

 

Medan, 2018

Eka Dianta BR Perangin-Angin. Lahir tahun 1991 dan saat ini tinggal di Kota Medan. Sejumlah karya penulis berupa cerpen telah dimuat di beberapa media, seperti Harian Analisa, Medan Bisnis, Sumut Pos, Waspada, Cendana News, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, dan sebagainya. Penulis dapat dihubungi via surel dian_nangin23@yahoo.co.id atau via nomor ponsel 0823-3208-0628.

Arsip Cerpen di Indonesia