Kalau sedang di kamar tidurnya, dia suka memandangi dinding yang berisi banyak gambar. Alira memang suka menggambari dinding kamarnya. Ada banyak macam gambar di sana. Semua gambar berbentuk siluet hitam penuh: gambar wajah seorang lelaki tanpa mata dan mulut, gambar lelaki menggandeng tangan bocah, gambar lelaki bersama bocah dan seekor kucing, gambar lelaki menggandeng tangan perempuan, gambar lelaki bersayap, dan gambar kepala lelaki yang muncul dari tong sampah. Semua gambar itu memenuhi dinding kamar berlatar putih. Alira seperti sengaja menciptakan dunia lain yang bercerita tentang kebahagiaan di dinding itu, kebahagiaan yang hitam. Oleh sebab sudah tidak ada ruang, Alira tidak menggambar lagi, tapi lebih suka memandanginya. Manisa, ibunya, tak marah dengan perbuatan Alira. Bahkan, disuruhnya Alira menggambar sepuasnya.
Baca juga: Malaikat yang Menunggu – Cerpen Kristin Fourina (Media Indonesia, 09 Desember 2018)
Alira menggambar ketika hatinya sedang kesal. Biasanya dilakukan ketika dia pulang sekolah. Dia memang sering dibuat kesal oleh teman sekolahnya. Dia sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, misalnya dipalak, diacuhkan, dan dijauhi. Tetapi, dia lebih sering kena palak salah satu teman sekolahnya yang konon anak orang miskin; bapaknya dipenjara karena mencuri dan ibunya hanya bekerja sebagai tukang cuci baju.
Alira sering mengadukan perbuatan temannya itu kepada Manisa. Manisa, yang sering tidak punya banyak waktu mengurusi Alira karena kesibukan pekerjaan kantor, sudah berkali-kali meminta tindakan tegas dari pihak sekolah agar teman Alira yang tukang palak itu dikeluarkan dari sekolah, atau dipindah kelas. Tapi, itu tidak pernah terwujud karena pihak sekolah tidak bisa bertindak hanya dengan laporan sepihak. Akhirnya, Manisa bersiasat. Alira tak lagi diberinya uang saku.
“Kamu sarapan saja yang kenyang, ya, tidak usah bawa uang saku, demi keselamatanmu,” begitu kata Manisa dan Alira menurut.
Baca juga: Kisah Si Kembar – Cerpen Yus R Ismail (Media Indonesia, 02 Desember 2018)
Tapi, Manisa memberi bekal roti berselai cokelat dalam kotak makanan dan ditaruh dalam tas Alira. Muslihat itu berhasil. Alira aman dari pemalakan. Tapi, tidak dari perundungan lainnya. Akhirnya, Manisa mendatangi sekolah dan meminta Alira dipindah kelas saja. Permintaan itu dituruti. Namun, di kelas baru, Alira belum menemukan teman yang cocok.
Sebenarnya Manisa kasihan melihat kondisi Alira. Dia pernah memiliki niat menikah lagi, tapi takut. Dia takut menemukan lelaki yang salah. Sudah ada beberapa lelaki tampan dan berpenghasilan tetap mencoba mendekatinya. Namun, Manisa tidak berani membangun hubungan yang serius. Suatu waktu, ketika menemani Alira tidur, dia pernah bertanya, “Apa Alira ingin ayah baru?” dan Alira menjawab, “Tidak, Bu. Aku ingin Ayahku yang dulu.” Manisa menahan tangis saat mendengar jawaban Alira. Sejak saat itu dia hilangkan niat menikah lagi. Menolak siapa saja yang berusaha memilikinya, memilih menjadi janda selama-lamanya, demi menjaga hati Alira agar tak tersakiti.