Malam Natal pun tiba. Tepat pukul 9, Alira tidur tanpa harus ditemani Manisa atau Bik Nju, sang pembantu. Manisa masih ada di kantor, katanya ada beberapa tugas yang masih harus diselesaikan. Sebelum tidur Alira sudah berdoa. Meminta agar Sinterklas membawa pulang ayahnya. Saat sudah pulas dalam tidurnya, ada tangan yang mengguncang-guncang tubuhnya. Alira terbangun. Saat membuka mata, dia terkejut melihat wujud Sinterklas berdiri di samping kasurnya. Dia kucek-kucek matanya dan Sinterklas berjenggot putih itu masih berdiri sambil menyunggingkan senyum.
Baca juga: Keris Lancip Putri Nglirip – Cerpen Daruz Armedian (Media Indonesia, 04 November 2018)
“Jangan takut Alira. Ini aku, Ayahmu.”
Mendengar kata ayah disebut, Alira merasa bahagia tak terbilang. Dia tak bisa bicara dan segera menghambur pada Sinterklas dan memeluk tubuhnya sambil menangis bahagia.
“Aku pulang untukmu, Alira.”
Alira tetap tak bisa bicara. Dia hanya ingin seseorang yang dipeluknya, yang sangat dirindukannya, tidak lepas lagi dari pelukannya. Dan dia tak peduli, kalau yang terjadi padanya itu cuma mimpi. Ya, cuma mimpi, yang hanya akan menjadi kenangan ketika dia bangun nanti. (M-2)
Asoka, 2018
Agus Salim, lahir di Sumenep, 18 Juli 1980. Telah menerbitkan buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring, Intishar, 2017.