Petugas kenaiban mencatat segala identitas dan memeriksa kelengkapan administrasi. Dua buah buku nikah sudah dipersiapkan dan dipajang menawan. Seorang lelaki yang entah siapa namanya mendekat, ia mengulurkan tangannya dan memberikan potongan kertas berisi tulisan Bulan. Saya pun membacanya dengan saksama.
Jangan sedih penyairku, aku yang meminta padamu mahar pernikahanku adalah puisi. Lapangkan hatimu. Bangun kembali seperti pohon puisi tumbuh, berbunga, dan berbuah. Aku menunggumu menyelesaikan ibadahmu; syahadat puisi dan ijab kabul puisi.
Bulan.
Saya terpana karenanya. Lalu menengok ke arah Bulan. Kepalanya yang ditumbuhi bunga melati yang membentuk ronce kerudung putih tampak mengangguk-angguk. Saya pun membalasnya dengan senyum yang entah mengapa menjadi begitu ringan disunggingkan. Bulan baru saja membesarkan dada penyair yang telah berubah sempit diimpit perasaannya sendiri. Dari sini saya pun melihat matanya berkaca-kaca ditimpa air mata. Semoga saja itu adalah genangan kebahagiaan.
“Apa kau sudah siap, Nak?” ucap ayah Bulan sambil memegang jariku seperti sedang bersalaman.
Baca juga: Ziarah – Cerpen Win Han (Pikiran Rakyat, 09 Desember 2018)
Saya mengangguk padanya. “Sudah, Ayah. Saya siap!”
Pada detik itu ijab dan kabul bersahutan mulut tanpa jeda. Ayah Bulan menanyakan kepada saksi. “Sah?”
“Sah, sah!” jawab para saksi tanpa berselisih.
Tanpa isyarat dan janji, saya dan Bulan bersujud syukur. Mengucapkan rasa terima kasih atas berbagai keberkahan. Tunai sudah, kami telah diikat oleh tali suci ikatan pernikahan.
Dalam larik-larik hujan. Kami pun melewati malam-malam puisi dalam bulan berlelehan madu. Tak terlewat semalam pun Bulan minta dibuatkan puisi dan dibacakan puisi itu sebelum menunaikan ibadah cinta.
Di luar sana, menurut ayah dan ibu Bulan, orang-orang belum reda membicarakan perihal mahar puisi. Saya yakin, mereka hanya melihat tanpa membaca. Sehingga yang tampak adalah kulit di permukaan sementara daging dan bijinya tetaplah di dalam tanpa tersentuh.