Barangkali, saya menantu beruntung karena memiliki mertua yang berpandangan luas. Ketika melamar Bulan, ia tak menanyakan cincin emas tanda pengikat sebagai bukti pinangan.
“Apa kau bersungguh-sungguh ingin melamar Bulan, Nak?”
“Saya bersungguh-sungguh ingin menikah. Karenanya Bulan saya melamar.”
“Apa kamu terima lamaran lelaki di depan kita ini, Bulan?”
Bulan tak menjawab. Ia tertunduk malu. Ibunya memeluk pundak Bulan dan mengulangi pertanyaan ayahnya.
“Kamu terima lamaran anak muda itu, Bulan?”
Baca juga: Yu Nalea – Cerpen Sungging Raga (Pikiran Rakyat, 02 Desember 2018)
Bulan menunduk makin ke dasar. Ia tak berani mengangkat wajahnya. Malu sekali.
“Baiklah, Ayah sudah tahu jawabannya. Dan hari ini kalian berdua akan Ayah nikahkan.”
Bukan hanya saya yang terkejut sampai mau berdiri dari tempat duduk, bahkan Bulan pun mendongak ternganga lalu menutup mulutnya karena tak percaya.
“Saya belum menyiapkan maharnya, Ayah.”
“Apa kamu tidak membawa sesuatu untuk dijadikan mahar?”
“Sepertinya saya harus pergi sebentar untuk membelinya.”
Belum sempat ayah Bulan menjawab, Bulan menyela pelan.
“Bagaimana kalau maharnya puisi?”
“Puisi?” tanyaku tak mengerti.
“Iya, puisi. Bagiku itu lebih berharga dari emas dan permata.”
Baca juga: Pria Jahe – Cerpen Febbi Sena Lestari (Pikiran Rakyat, 14 Oktober 2018)
Ayah Bulan tampak berkerut tapi tidak lama. “Bagaimana, Nak? kamu sudah mendengarnya bukan? Sekarang apa kamu bersedia memberikan mahar puisi?”
Saya harus menjawab apa kecuali bersedia. Maka puisi itulah yang saya bacakan sebagai mahar untuk menikahi Bulan. Tak ada kesengajaan untuk memudahmudahkan mahar karena saya pernah mendengar kalimat, sebaikbaik lelaki adalah yang memberikannya banyak mahar.
Berita saya dan Bulan telah menikah pun sampai ke ayah dan ibu serta sanak kerabat. Kami berdualah yang menyampaikannya. Mereka tak habis pikir akan maharku berupa puisi.
“Apa sekarang harga puisi sudah mahal?” kata Ayah sambil membolak-balik sebuah koran langganannya yang menyediakan halaman sastra saban minggunya.
Barangkali maksud ayah adalah mempertanyakan masa depan pekerjaanku sebagai penulis puisi pada berbagai surat kabar dan majalah.
“Entahlah, puisi-puisi yang dimuat pun terkadang tak dibayar sekalipun sudah ditagih berkali-kali oleh penulisnya.”