Mahar Puisi

Sedih sebenarnya mengatakan itu apalagi di depan orangtua dan istri. Tapi apa boleh buat, bukankah menjadi penyair pun harus memiliki sifat jujur? Bayangkan jika penyair berdusta, ia akan membohongi redaktur dan pembaca sastra dengan memplagiat karya penulis lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri. Jika itu terjadi, bukan hanya penulisnya yang dimaki dan di-bully bahkan redaktur media dan surat kabar bersangkutan ikut kena getahnya karena meloloskan karya penulis lain—dianggap kurang mengetahui dunia puisi. Padahalsiapa pun dia, pengetahuan seseorang memiliki batasan. Tidak harus menjadi redaktur sastra bisa menghafal dan mengetahui seluruh puisi para penyair.

Ayah yang seorang penyair pun kemudian menceritakan tentang puisi. Bagaimana dulu penyair adalah musuh para nabi. Syair atau puisi dikatakan sihir karena mengajak kepada kesesatan, membawa kepentingan, dan permusuhan sebagaimana penyair Nadhr bin Harits. Akan tetapi, syair atau puisi pun dapat digunakan sebagai alat dakwah sebagaimana penyair Abdullah bin Rawahah yang membantu perjuangan Rasul.

Baca juga: Seseorang dalam Ramalan – Oleh Jein Oktaviany (Pikiran Rakyat, 07 Oktober 2018)

Bulan berkaca-kaca seperti ditenggelamkan ke permukaan danau. Cahayanya timbul tenggelam di antara percakapan kami. Ia begitu menghayati cerita ayah sepertinya. “Semoga kau adalah Abdullah bin Rawahah di zaman ini. Jangan jadikan puisi sebagai ladang menanam pohon uang, tetapi jadikan ia ladang menanam pohon perjuangan.”

Ayah dan saya mengangguk sepakat. Bagiku apa yang diucapkan Bulan adalah doa dan harapan untuk menata jalan kehidupan yang masih panjang dan berliku. Semoga kelak mendapatkan keberuntungan.

Saat ini saya dan Bulan memang sedang saling jatuh cinta dan berjanji akan terus saling cinta. Mencintai dengan puisi, menyayangi dengan puisi, dan merindu pun dengan puisi. Membangun rumah tangga dengan puisi dan membesarkan anak-anak pun dengan puisi. Karena keluarga penyair akan selalu hidup dengan puisi dan akan mati tanpa puisi.

“Mengagumkan sekali kata-katamu. Apa kamu yang membuatnya?” tanya Bulan padaku.

“Iya, bahkan kita pun adalah puisi itu sendiri. Saya puisi dan kamu puisi.”

Bulan di atas langit tersenyum. Rekahnya jatuh di bibir Bulan. Merah jambu. Manis sekali malam ini. ***

Arsip Cerpen di Indonesia