Dalam Kardus Pukul Dua

Suasana jadi lengang. Semua bab bersemadi, masuk dalam pikiran dan jiwa masing-masing. Tepat sasaran taklimat Selama Masih Bernapas mengenai lantai sanubari setiap bab. Panjang renungan. Kesenyapan beranak cucu; lama sangat. Bahana arloji laksana instrumen melankolis yang sengaja dihadirkan dari paruh abad delapan belas. Beranakpinaklah buah pikiran semua bab.

Lemari, pajangan dinding, dan benda-benda lain di ruang sempit itu pun ikut larut dalam kesenyapan. Senyap, seperti kembali pada ketiadaan. Hanya bahana arloji yang merajai senyap. Karena hanya ia yang tetap bersuara; menyayat-nyayat dan penuh irama untuk mengingat masa kejatuhan bulan.

Dulu, buku Tata Cara Bernapas yang Salah adalah mahadewa yang dipuja. Bahan bacaan sakti mandraguna yang setiap bab di dalamnya adalah ilmu yang bermakna maharaja dari segala raja ilmu. Setiap jiwa yang membaca buku itu akan bergelora; penuh semangat hidup, berjuang meraih kehidupan yang penuh makna dan berguna bagi sesama. Buku itu bukan hanya sekedar rentetan kata. Tapi bak buah kehidupan yang jatuh sengaja dari surga.

Baca juga: Bekas Lipstik di Bibir Cangkir – Cerpen Mashdar Zainal (Haluan, 02 Desember 2018)

Memang, setiap yang ada dan berkuasa akan lapuk oleh hujan dan lekang oleh panas. Dan akhirnya, benar-benar dilupakan. Walau jasanya sebesar semesta. Toh, lambat laun hanya samar-samar yang terlintas dalam benak. Padahal, setiap bab buku itu memuat pesan kehidupan, sejarah yang sempat dihitamkan.

“Kita hanya debu penghabisan sebelum sapu menggasak. Kita tak ubahnya mite yang benar-benar lapuk. Tak lagi berguna, lihatlah sampul kita yang penuh debu peninggalan perang kejayaan, dan kita kalah,” ucap bab tujuh bernama Sampai Napas Terakhir, “betapa dipujanya saya dulu. Disebut sebagai bab paling membangkitkan semangat. Kita kalah, ah, tidak. Kita dilupakan. Lihatlah kini saudara-saudara, kita tak disentuh, tidak dibaca. Hanya tertanam di dalam kardus amis. Hanya dikunjungi hewan melata yang datang untuk kencing.”

Arsip Cerpen di Indonesia