Buku itu dicabik-cabik. Berdarah. Cacing-cacing tak memberi ampun. Buku hancur, koyak! Sekompi cacing menjalankan misi yang sudah lama disusun dengan baik sangat, agar tidak berbekas sama sekali. Dihabisi buku malang itu. Hilang rasa hewani cacing-cacing itu terdahap buku.
Kejadian singkat tapi memilukan itu menggambarkan kerusuhan dan kemenangan bagi pihak cacing yang sudah keluar dari persembunyian gerakan bawah lantai sukses. Buku itu benar-benar porak poranda. Hancur, dan mati dalam kardus lusuh.
Baca juga: Secangkir Kopi – Cerpen Catherine Lacey (Haluan, 11 November 2018)
Tetapi, sebelum para cacing kembali ke peraduan. Entah roh baik atau roh jahat apa yang merasuki Pak Ijend sang pemilik buku. Disaksikannya sekompi cacing yang melahap buku itu. Ia muntab dan lantas membabat habis sekumpulan cacing itu.
Perbuatannya bagai telah menyelamatkan buku. Tapi, apa lacur, buku itu musnah. Koyak. Mati! Buku yang sejatinya miliknya. Atau lebih tepatnya buku yang sebenarnya jati dirinya. Yang selama ini ia kubur dalam kardus busuk dan hancur dalam kardus itu oleh gerakan cacing bawah lantai. “Akulah pahlawan yang membantai cacing-cacing itu.” Pak Ijend membatin. Terukir senyum simpul di bibirnya. (*)
Diego Alpadani. Lahir Agustus 1997. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Ia hobi bermain catur.