Semua bab yang terdiri dari sembilan bab dalam buku itu, fokus mendengar Sampai Napas Terakhir berorasi berapi-api. Bab tujuh itu memang seperti pemimpin tegas dan adil. Bab tujuh seumpama pedang yang siap menghunus hati pembaca.
“Dulu kita bak dermaga ilmu yang patut dibaca, dikenang, dijadikan simbol pengetahuan. Lihatlah manusia sekarang, enggan untuk menyentuh kita. Kita serupa barang haram yang hinadina. Ah, sengsara sangat akhir dari penghabisan yang kita miliki,” ucap Menghirup Sebelum Melepas.
“Semampang kita akan dimusnahkan. Hanya timah panas yang layak mencabik kulit ini!” sabda Selama Masih Bernapas, kembali menghentak jiwa.
“Jikalau kita…..”
Baca juga: Jatah Air Mata – Cerpen Agus Salim (Haluan, 25 November 2018)
Jarum jam termaktub pada pukul empat dini hari. Semua kembali hening, senyap, lengang. Sang buku beserta isinya yang sedari pukul dua malam bercakap kembali diam. Hanya dua jam waktu untuk hidup. Dua jam; tak lebih, tak kurang. Kembali pada kekosongan. Membeku dalam kardus bangsai yang amis. Entah kapan akan dijamah oleh bendoro.
***
Di lain ruang nun jauh di bawah lantai; tepatnya tak pasti tapi, pasti di bawah lantai. Sekompi cacing yang melata di bawah tanah, merasa muak. Kerena setiap tengah malam harus mendengar rintihan ketidakadilan buku beserta isinya itu. Setelah genap sebulan, gerakan bawah lantai yang perhimpunan cacing merayap naik. Gerakan bawah lantai itu hendak menggerogoti buku Tata Cara Bernapas yang salah. Merayap, membor tanah padat menuju lantai.
Segala cara dilakukan cacing-cacing melata yang muak. Sampai juga pada dini hari itu juga, mereka mendarat, menembus dinding pembatas. Tepat pukul empat dini hari. Semua cacing menggerogoti buku gaek dalam kardus itu.