Sebenarnya, bukan hanya perihal habisnya beras yang memaksa Sakri nekat melaut malam-malam. Karno, juragan kapal sekaligus rentenir yang menjadi salah satu alasannya. Lima hari yang lalu Karno datang ke rumah Sakri.
“Sakri, utang-utangmu sudah telat dua bulan. Tentu bunganya juga semakin membesar. Lama-lama bisa menggunung,” ucap Karno.
“Ya, Juragan. Saya tahu. Tapi mau bagaimana lagi. Juragan tahu sendiri. Musim sedang tak bersahabat. Banyak nelayan yang menyandarkan perahunya,” dalih Sakri.
“Aku tahu kesulitanmu, Sakri. Tapi yang namanya utang harus tetap dibayar. Aku juga akan merugi jika tak lekas kamu bayar, sebab masih banyak orang yang membutuhkan uangku.”
“Berilah saya waktu beberapa hari lagi, Juragan,” pinta Sakri.
“Ah, kamu ini minta waktu terus. Minggu lalu kamu minta waktu, kini kamu minta waktu lagi. Lama-lama kamu akan kabur, hah?”
“Bukan maksud saya begitu, Juragan.”
“Alaaah… aku tahu akal bulusmu, Sakri. Kamu minta waktu hanya untuk mengakaliku saja, kan? Sakri, kalau kamu tak segera membayar utang-utangmu, maka rumahmu ini yang akan jadi gantinya. Camkan itu!” ancam Karno.
“Tapi, Juragan….”
“Ah, tak usah tapi-tapian. Aku tak mau tahu. Pokoknya dua hari lagi, aku datang ke sini dan kamu sudah siapkan duitmu. Dan jangan lupa, plus bunganya,” pungkas Juragan Karno, lalu pergi.
Sakri tertunduk lesu. Hatinya campur aduk. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Tak mungkin ia berutang pada tetangga untuk membayar utang-utangnya, sementara mereka juga sedang bernasib sama. Namun yang membuat Sakri bertambah miris, akan tinggal di mana jika rumah satu-satunya yang ia miliki benar-benar disita Juragan Karno. Seorang lintah darat yang sudah kawin lima kali, namun acap kali mengganggu istri orang lain itu. Bimbanglah hati Sakri.
Kegetiran Sakri semakin bertambah, tak lama setelah Juragan Karno meninggalkan rumahnya, tiba-tiba mendengar teriakan Sukarwo memaki istrinya. Seseorang telah mengabarkan pada Sukarwo, bahwa Tati, istri Sukarwo, semalam kedapatan bercinta dengan Juragan Karno disebuah warung remang-remang pinggir kampung. Tati berdalih, ia terpaksa melayani Juragan Karno lantaran tak kuat membayar utang-utangnya yang menggunung.