Dendam

Sukarwo naik pitam. Diambilnya parang dan berlari menuju rumah Juragan Karno untuk memberi perhitungan. Sukarwo berteriak lantang di depan rumah Juragan Karno untuk menantang duel. Beruntung Sakri beserta beberapa warga berhasil menenangkan Sukarwo dan mengajaknya pulang.

Nahas, pagi harinya justru Sukarwo ditemukan tewas di pantai.

***

Sakri cemas. Hari ini adalah hari dimana Juragan Karno akan menagih utangnya. Dipandanginya hujan dari balik jendela kamar yang kian ritmis. Dipikirnya dalam-dalam bagaimana cara agar utang-utangnya pada Juragan Karno dapat terlunasi tanpa menimbulkan persoalan. Ia tak ingin bernasib sama seperti Sukarwo. Tapi bagaimana caranya ia peroleh uang tiga juta dalam sekejap. Belum lagi bunganya yang cukup mencekik leher. Sementara sudah beberapa hari ia tak melaut.

“Sakri! Sakri! Buka pintunya! Aku tahu kau di dalam!” Suara laki-laki terdengar dari balik pintu.

Sakri tak segera menjawab. Ia tahu betul suara siapa di luar sana. Selang beberapa waktu, barulah Sakri membukakan pintu.

“Bagaimana, Sakri. Hari ini aku datang untuk menagih janjimu.”

“Anu, Juragan. Bagaimana kalau utangnya saya cicil dulu pakai perahu.”

“Apa kamu bilang? Perahu usang itu mau kamu berikan padaku? Yang benar saja kamu, Sakri. Kutu busuk kamu!”

“Ya, itung-itung bunganya dulu tak masalah kan juragan.”

Juragan Karno hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Lantas, apa yang harus saya lakukan untuk membayar utang saya. Saya tak tahu harus mencari di mana lagi.”

“Ya terpaksa rumahmu ini aku sita.”

“Kami mau tinggal di mana, juragan?”

Suasana hening sejenak. Hati Juragan Karno sedikit iba melihat wajah Sakri yang memelas. Tiba-tiba timbul pikiran busuk di kepala Juragan Karno.

“Begini saja, Sakri. Aku punya ide. Ini boleh kamu terima, boleh tidak. Tapi menurutku hanya ini pilihanmu, jika kamu tak ingin terusir dari rumah ini.”

“Apa, juragan?” tanya Sakri sedikit penasaran.

“Adikmu kan cantik? Utangmu boleh lunas, jika kamu relakan adikmu.”

“Maksud Juragan?”

“Kamu tahu kan istri Sukarwo?”

Arsip Cerpen di Indonesia