“Bedebah! Tidak bisa. Aku tak akan rela adikku kau mangsa! Pergi kamu dari rumahku. Dasar rentenir!” teriak Sakri.
“Berani juga kamu menghinaku, Sakri?! Kamu pikir kamu siapa! Dasar miskin tak tahu diuntung!”
“Aku memang miskin tapi aku masih punya harga diri. Aku masih punya kehormatan. Lebih baik juragan pergi atau aku bisa bertindak kasar!”
“Kamu mengancamku, Sakri?”
“Ya, memangnya kenapa?”
“Baik…. jika itu maumu. Kita lihat nanti apa yang terjadi.” Juragan Karno pergi berkelebat di balik hujan.
Sakri masih melotot menahan amarah. Baginya kehormatan lebih berharga dari sekadar utang-utangya yang menggunung.
***
Malam menjelang, ketika penduduk Kampung Tanjung tengah dininabobokkan oleh gerimis tipis. Seorang laki-laki berjalan mengendap-endap menuju rumah Juragan Karno. Tepat di samping kamar sang juragan, perlahan ia mencungkil jendela. Setelah terbuka, laki-laki itu langsung melompat ke dalam kamar. Ia kemudian mendapati Juragan Karno tengah tertidur pulas.
Dendam kesumat dalam dada laki-laki itu telah membara. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyiramkan sebotol bensin ke tubuh juragan Karno, lantas membakarnya. Laki-laki itu pun langsung meninggalkan Juragan Karno yang tengah mengerang kepanasan.
***
Pekik burung laut menggema dini hari. Menyiarkan berita panas tentang kematian Juragan Karno yang dibakar orang. Sih terhempas dari mimpinya, ketika mendengar kegaduhan di luar rumah. Sih pun keluar untuk melihat keadaan. Ia tercengang ketika mendengar bahwa Juragan Karno mati dibakar orang. Namun yang membuat hati Sih teriris, desas-desus warga desa mengatakan bahwa Sakri-lah yang membunuh Juragan Karno. Berita itu merebak, setelah tanpa sengaja Jamil melihat Sakri berjalan tergesa-gesa dari arah rumah Juragan Karno menuju pantai. Sih baru sadar, rupanya sebelum kakaknya melaut, ia mampir ke rumah juragan Karno untuk melancarkan aksinya.
Kudus, 2018
M. Arif Budiman, lahir di Pemalang 5 November 1985. Karyanya pernah dimuat di beberapa media massa. Salah satu cerpennya yang berjudul “Kuda Putih di Ritus Kenabian” masuk dua puluh pemenang Lomba Cerpen NU Lampung, 2018. Sekarang bermukim di Kudus.