Membunuh Iblis pada Malam Tahun Baru

Kalau melesat kabur. Kau juga tidak jera menyalakan petasan. Sekali lagi kauhidupkan petasan di depan rumah. Suaranya yang keras mendengung hingga mampu membelah gendang telinga. Iblis-iblis itu tak lagi bertengkar, tetapi mereka kini malah memanggil-manggilmu. Kau pun berpikir: iblis-iblis yang bersemayam di tubuh ayah tiriku dan Ibu sudah pergi.

2. Para Iblis yang Pemalas dan Pesta-pesta Mereka

Kau acap muak setiap kali melihat iblis jantan itu bermalas-malasan di depan televisi. Iblis itu hanya menghabiskan puluhan kaleng bir beralkohol dan tertawa-tawa mengamati tayangan televisi. Rumah menjadi gaduh. Apalagi kalau iblis itu sudah mengundang teman-temannya untuk bermain judi, susana rumah seperti nereka. Mereka ribut mempertaruhkan uang masing-masing, dan terkadang meniduri wanita secara bergantian.

Melihatnya kau menjadi mengerti, mengapa Ibu, iblis betina itu, sering marah pada iblis laki-laki tersebut. Iblis betina itu jengah atas tingkah iblis jantan yang gemar mabuk-mabukan, bermain judi, dan bergonta-ganti pasangan. Kau juga pernah melihat Ibu ditiduri salah satu teman iblis jantan karena uang untuk berjudi habis.

Tak ada pula yang dapat kaulakukan untuk membantu. Kau hanya menyalakan petasan ketika keadaan sudah semakin gaduh dan kacau. Dengan menyalakan petasan, kau berharap iblis-iblis itu segera enyah dari rumahmu. Namun yang terjadi sering sebaliknya. Terkadang usahamu mengusir para iblis gagal. Kau malah menjadi sering terkena tamparan, atau amukan dari salah satu iblis itu. Dari semua yang pernah terjadi, kau acap tak habis pikir: mengapa Tuhan membiarkan makhluk terkutuk itu berkeliran di dalam rumahku? Apakah rumah ini telah dikutuk? Kau tak tahu.

Namun dahulu rumah ini tampak indah seperti rumah-rumah umumnya. Sayang, keharmonisan itu hanya sementara. Tepatnya setelah ayah kandungmu meninggal dan Ibu menikah lagi dengan pria asing yang tak kau suka. Tuhan menciptakan kesempatan, tapi apabila seorang salah mengambil, hal buruk bisa terjadi. Demikianlah yang dilakukan Ibu waktu itu. Ia salah memilih langkah di dalam hidupnya; hingga menentukan juga terhadap hidupmu dan kebahagiaan rumah.

Rumah yang bahagia menjadi sarang iblis karena Ibu memilih menikahi pria asing yang dia temukan di tepi jalan. Ibu yang semula lembut, perlahan berubah menjadi binal dan liar. Bahkan Ibu menjadi iblis betina pada malam tahun baru dua tahun lalu. Dan seorang keparat yang Ibu temukan di jalan itu, sering memaksamu memanggilnya Ayah. Namun kau tidak pernah mau, karena laki-laki itu bukan ayahmu. Kau menganggap laki-laki itu iblis liar yang baru saja melarikan diri dari neraka.

Arsip Cerpen di Indonesia