Sejak kejadian itu rumahmu menjadi sarang bagi iblis-iblis berpesta. Iblis-iblis itu seakan tak kenal waktu ketika berpesta. Ibu, iblis betina itu, entah mengapa, sejak dipaksa iblis jantan tidur dengan temannya karena kalah berjudi, sering pergi bersama salah satu teman iblis jantan untuk berkencan. Namun ketika Ibu kembali, pertengkaran dimulai. Mereka akan saling mengutuk. Bahkan seakan ingin saling membunuh. Maka kau selalu menyalakan petasan agar iblis-iblis itu pergi.
3. Rencana Membunuh Iblis
Malam ini rasa rindu bergelayut di dalam hati. Kau ingat Ayah, yang sudah lama meninggal; pria baik yang telah membusuk entah di mana. Kau tahu sebenarnya Ayah mati bukan karena kecelakaan, melainkan setelah Ibu menikamnya dari belakang. Ibumu menikam Ayah dengan sebilah pisau dapur dan membuang mayat Ayah di sebuah sungai. Ibumu melakukan itu karena sudah hamil satu bulan dengan pria gelap yang dia temukan di jalan dan berakhir dengan keguguran.
Air matamu meretas jatuh mengingat takdir muram Ayah. Kau ingin memeluk ayahmu atau bermain petasan, seperti kakekmu ketika masih hidup. Karena dahulu, pada waktu malam tahun baru akan tiba, kau selalu bermain petasan berdua.
“Kakekmu benar. Suara petasan dapat mengusir setan, Lastari,” kata ayahmu. “Itu sebabnya petasan dinyalakan pada malam tahun baru. Semua setan akan pergi, tidak mengganggu manusia pada kehidupan berikutnya.”
Kau bergidik ngeri mendengar cerita Ayah mengenai setan.
“Iblis memang dapat terus berkeliaran hingga akhir zaman,” lanjut ayahmu lagi. “Maka kita harus mengusirnya.”
Lamunanmu terus melambung hingga mendadak terdengar sebuah ketukan di pintu, yang membuyarkan segalanya. Ketukan itu semakin keras. Namun kau kukuh tidak membuka.
“Lastari, buka pintu!” ujar iblis jantan itu. “Cepat buka pintu!”
Kau tak menggubris. Kau mendekam di kamar dengan tubuh mengigil ketakutan. Kau tak dapat membayangkan kejadian buruk yang mungkin akan menimpamu bila membuka pintu. Suara ketukan itu semakin nyaring. Bahkan iblis itu berusaha merubuhkan pintu kamarmu. Iblis itu memekik-mekik lantang.
“Lastari! Buka pintu! Ayah ingin bicara denganmu!” Pitam iblis itu. “Ada sesuatu yang Ayah berikan padamu!”
Di dalam kamar, kau terus berdoa. Namun iblis itu terus memaksa agar dapat masuk ke kamarmu. Gesit, kau meloncat dan mengambil sebuah petasan di dalam kotak kecil. Kau nyalakan petasan itu berulang-kali sampai suara yang mengentak-entak di luar pintu berhenti. Apakah iblis itu pergi? Tidak. Iblis di dalam rumah ini tidak akan pergi! Iblis itu malah masuk melalui jendela kamarmu. Iblis itu kemudian menubruk tubuhmu dari belakang dan melucuti pakaianmu satu per satu. Iblis itu kembali membenamkan kutukan di dalam rahimmu untuk kali kelima.