Segelas Teh, Hujan, dan Patah Hati

September 2018

Pada satu mimpi kelam dari masa laluyang merangkak dari tulang ekorku sampai kemudian menyuntik otakku dengan kata-kata yang pernah kau ucapkan perlahan dan lembut, seperti ruh yang pelan-pelan menyembul dari tubuh Adam dan berwujud menjadi Hawa.

“Aku mencintaimu,” katamu.

“Tidak, aku tidak bisa,” jawabku dingin, “berhentilah menyakiti dirimu, melukai perasaanmu dan jangan pernah mudah menyebutkan cinta jika kau tahu kita takkan pernah bersama lagi setelah ini”

Aku benar tega, bukan? Namun,  lagi-lagi aku merasa akan lebih tega jika aku katakan aku mencintaimu lantas melanjutkan hubungan gelap dengamu, tapi kau akan tetap bersama lelaki yang meminangmu, lelaki yang tak bisa kau tolak semudah menolak tawaran penjual koran di lampu merah. Kau tak bisa melawan takdir, dan aku juga lebih memilih melawan hasratku ketimbang melawan takdir. Aku tak bisa membangun hubungan gelap.

“Mencintai bagi kita berdua adalah bersahabat dengan kehilangan” aku berkata saat hendak pergi “cobalah bernafas dan tidur yang nyenyak, sesekali kau boleh menyeduh teh di depan jendela saat hujan deras dan petir.”

Baca juga: Tuba – Cerpen Ida Fitri (Serambi Indonesia, 23 September 2018)

“Apakah kau benar-benar tidak mencintaiku? Bagaimana aku bisa sedemikian cepat untuk melupakanmu?” tanyamu.

“Ketika kau menyeduh teh dan menyaksikan petir,” sambungku tanpa menjawab tanyamu, “Petir, begitulah kehilangan bersautan, bercabang, mengejutkan, dan dingin. Kerapkali petir datang menusuk dan hilang dalam sekejap setelah meninggalkan bekas dan sengatan”

“Apakah kau kecewa denganku?”

“Harapan selalu ada, meskipun berkali-kali kita dipecundangi oleh harapan. Sebab kita adalah manusia yang tak lelah berharap. Kita ketagihan untuk berharap, seperti candu. Kau tahu kenapa? Karena memang kita menyadari diri kita sendiri terlalu lemah diharapkan agar tidak terjatuh dalam kekecewaan dan rasa kehilangan yang sama.”

Kau lalu menangis, lantas memandang ujung-ujung kakimu sedang aku menyaksikan dengan keharuan yang tidak dibuat-buat. Setelah itu, kebanyakan kau hanya diam, dan aku perlahan megusap mata memastikan tak ada yang air mata dari kedua mataku. Tapi nihil.

Arsip Cerpen di Indonesia