Januari 2019
Harusnya manusia seperti koruptor, teroris, pemerkosa, dan manusia tanpa hati lainnya tidak dihukum gantung. Mereka semestinya dihukum untuk jatuh cinta. Sebab hukum gantung hanya berarti mati sekali saja, sedang jatuh cinta adalah cara untuk mati berkali-kali.
Berbulan-bulan kemudian, semua kembali normal. Aku tetap hidup, dan kau juga masih hidup. Belum ada yang mati diantara kita, hanya saja harapan kita pudar kemudian lantas mati tanpa kita sadari. Tak ada perjuangan diantara kita lagi, kau bakal menikah dengannya sebentar lagi. Sungguh sial, ketika semua melaju dengan lambat, sesuatu yang kita anggap bencana malah kita terima dengan lapang dada. Mungkin kau dan aku berujar dalam hati, “Tidak ada gunanya untuk berjuang, dan tak ada waktu lagi untuk kalah pada pertarungan yang sama.”
Barangkali, Tuhan mepertemukan kita hanya untuk mengajarkan hikmah ini: bahwa jatuh cinta bukan hanya risiko untuk saling berjuang, jatuh cinta juga bermakna bahwa kita memang harus menerima untuk kalah dan menyerah.
Apakah buruk jika harus kalah dan menyerah? Tentu saja tidak! Hidup juga tak harus selamanya menentang arus, kita bisa lelah dengan arus harapan, maka kita mesti berenang ketepi, atau terbawa arus dengan bahagia lantas menunggu untuk mati di arus terjal. Mencintai memang seironis itu, ya?
Mei 2018
Waktu mundur. Hujan rintik-rintik, kita tak pernah tahu akan berakhir di mana, yang kita tahu, kita hanya sedang bersenang-senang mandi hujan sedangkan orang lain berteduh. Banyak alasan untuk tidak berteduh, alasan kita adalah alasan konyol saat itu karena kita menginginkan basah bersama. Terlalu singkat waktu kita hanya untuk berteduh, kita kuyup, tapi kita bahagia, bukan?
“Aku heran, mengapa mereka takut hujan?” katamu mencibir orang-orang yang berteduh seperti sekumpulan kambing.
“Mereka barangkali memilih diam dan menyerah ketimbang harus melakukan tindakan berisiko”
Lalu kita kembali melaju dengan sepeda motor yang berjalan pelan, seakan-akan kita adalah magnet bagi rintik hujan. Jalanan sepi, orang-orang yang berteduh menatap kita aneh. Tapi peduli setan, cinta memang aneh, bukan?
Kau ingat itu, ya aku ingat. Ingatan indah masa lalu memang selalu menyakitkan ketimbang kenyataan pahit yang kita jalani saat ini. Kita membangun persepsi tentang dunia kita yang dipenuhi oleh kata-kata, sentuhan, dan nafas yang tersengal. Sampai kita lupa saling bertanya: kira-kira bagaimana cinta kita akan berakhir?