Sebelumnya aku masih belum mengerti apa itu mati, tetapi setelah ibu tak pernah pulang dan tak pernah bertemu denganku ataupun dengan kakek, baru aku percaya dan mengerti jika kematian itu adalah kepergian yang tidak tak bisa ditunda. Menghilang. Sejak saat itu dan sampai sekarang aku mengerti, bahwa ajal itu pembunuh.
Aku berdiri di pintu, sambil menyandarkan kepalanku ke daun pintu, sesekali menengok motor yang datang, ternyata tetangga. Belum juga aku temui ibu. Tetapi bayang-bayang ibu selalu ada pada malam itu. Mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu rindu.
Baca juga: Viona – Cerpen Fadiyatul Khaira (Rakyat Sumbar, 22-23 Desember 2018)
Aku tinggal bersama kakek dan nenek. Merekalah yang merawatku setelah ibu dinyatakan tewas akibat kecelakaan. Ibuku telah meninggalkan aku setahun yang lalu di mana usiaku masih empat tahun. Orang-orang sibuk menangis tak terkecuali kakek, nenek, bibi dan semuanya yang berada di rumah. Aku mengira ibu hanya tidur, tidur di ranjang berselimut jarit batik, mata terpejam, wajah pucat pasi. Tetapi entah kenapa melihat orang-orang menangis, aku tak tahan. Aku pun ikut menangis.
***
“Mengapa ibu belum datang juga, Kek? Apa ibu tidak ingin menemuiku?”
Kakek menarik nafas dalamdalam. Dihembuskan perlahan. Matanya meredup. Ia menggendongku, mengusap rambutku, menyentuh pipiku yang mempunyai tanda lahir berupa tahi lalat di bawah bibir. Mencoba menjelaskan tetapi waktu itu aku masih kecil untuk mendengarkan penjelasan dari kakek. Ia bingung mencari kata-kata yang tak mungkin memahamkan aku.
Baca juga: Perempuan, Tapi Bandel – Cerpen Siti Florensia Medeti (Rakyat Sumbar, 08-09 Desember 2018)
Angin malam berembus dingin menyentuh kulit. Aku diajak masuk dalam rumah. Aku tetap bersikukuh dengan keyakinanku, bahwa ibu akan pulang malam ini. Tatapanku masih tertuju pada pintu berbahan kayu jati, ketika aku digendong kakek. Kedua daun pintu itu masih terbuka lebar, sehingga angin malam leluasa masuk bersama rindu-rindu tak bertepi.
“Ibumu pasti akan pulang. Lebih baik kamu tidur dulu, nanti kalau ibumu sudah pulang, kakek bangunkan,” ucap kakek.
Kakek membuka lemari dekat ranjang tidurku. Ia mengeluarkan sebuah selimut berwarna biru mentah persisnya warna telur bebek. Dipandanginya dalam-dalam selimut yang masih terlipat rapi itu. Seperti sedang mengais-ngais kisah-kisah yang terkubur oleh waktu. Kata kakek, selimut itu sering digunakan ibu untuk tidur waktu ibu masih kecil. Selimut itu dibuka perlahan. Kemudian dengan tangan bergetar ia menutup tubuhku dengan selimut itu sebatas pundakku.