Selametan

“Sekarang lekas tidur. Mudah-mudahan, ibumu akan pulang malam ini,” tutur kakek.

Sebilah bingkai terpasang di tembok berwarna kusam. Sebuah foto tergambar perempuan yang tak lain adalah ibuku. Perempuan yang telah berhasil melahirkan aku dengan keperihan yang teramat, sebab perlakuan warga kampung yang tidak pantas kepada ibu. Di karena kan aku dilahirkan tanpa ada status yang sah. Aku dilahirkan tanpa ayah. Orang bilang aku, anak jadah. Kala itu ibu pulang dari perantauan dengan keadaan hamil.

Dengan itu kakek-nenek dan para saudara-saudara ibu sangat kecewa. Tak bisa ditutupi rasa malu oleh ulah ibu. Tetapi dengan keteguhan hati ibu, lahirlah bayi haram yaitu aku.

Baca juga: Meraih Bintang – Cerpen Fadhila Syahda F.A. (Rakyat Sumbar, 01-02 Desember 2018)

“Apa ibu akan datang, Kek?” tanyaku.

“Mudah-mudahan ibumu akan pulang malam ini. Sekarang tidurlah,” jawab kakek. Lalu kakek mengusap rambutku. Dan berkata, jangan lupa berdoa sebelum tidur, seiring mengangkat tubuhnya kemudian berlalu keluar dari kamarku.

Setelah tak berselang lama kakek keluar dari kamarku, foto ibu seperti tengah memandangku. Hawa dingin menyelinap di seluruh ruangan kamarku. Foto itu mengeluarkan air yang merembes membasahi tembok. Tiba-tiba jendela terbuka, diikuti angin kencang yang menerobos ke dalam, masuk lewat celah-celah jendela yang terbuka. Cahaya putih menyilaukan muncul bersamaan dengan angin kencang berasal dari jendela kamarku.

Sesosok muncul dari cahaya putih itu. Cahaya itu semakin jelas. Sesosok itu adalah perempuan, berpakaian serba putih dengan wajah pucat. Tak salah lagi perempuan itu adalah ibuku. Ia hanya diam, tak ada sepatah kata pun dari mulutnya , seperti seonggok patung. Kemudian ia memberikan aku baju yang sangat indah dan petasan kesukaanku.

“Terima kasih ibu,” ucapku.

Baca juga: Menyentuh Ujung Langit – Cerpen Selni Sanjaya (Rakyat Sumbar, 03-04 November 2018)

Ia hanya mengangguk, lalu melambaikan tangan. Ia pergi. Cahaya putih itu menghilang bersama angin kencang. Jendela tertutup kembali. Suasana menjadi normal kembali, sunyi kembali merayap. Tetapi, sungguh aku bahagia sekali, karena aku bertemu dengan ibu walaupun sebentar, setidaknya rinduku telah terobati, apalagi ibu memberi baju lebaran dan petasan. Aku tidak memedulikan ini mimpi atau bukan.

Keesokan harinya, kakek membangun aku. Ia menggoyangkan badanku. Sesekali tangan tuanya mengusap-usap rambutku. Aku seketika terbangun, dan langsung mencari baju dan petasan yang aku dekap tadi malam, pemberian ibu, tetapi baju dan petasan itu menghilang. Aku mencarinya dan tidak kunjung menemukannya . Aku menangis sejadi-jadinya.

Arsip Cerpen di Indonesia