Kepada Siapakah Dia akan Menyusu?

Ingatanku masih tajam dan aku cekatan dalam berhitung. Aku masih pula berandai-andai. Aku menyembunyikan dompet plastik kecilku di pinggiran kasur bagian kanan. Isinya lembaran uang lima puluh ribu dan seratus ribu. Keluarga jauh dan cucu-cucuku yang cukup berhasil masih datang mengunjungiku.

Aku seperti objek wisata saja. Mereka selalu pamit pulang sambil menyisipkan lembaran uang ke dalam genggaman tanganku yang kisut keriput, ke dalam kantong daster batikku, atau diselipkan di bawah bantal kepalaku. Nah, inilah saat-saat di mana senyumku merekah dan bicaraku yang sudah cadel bisa kembali jelas terdengar.

Anak-anak perempuanku yang masih hidup, sekali dalam setahun mengunjungiku. Mengambil isi dompetku. Belanja bahan-bahan makanan yang enak dan segar. Ikan nila yang dibakar dalam bungkusan daun pisang dan tumis sayur labu siam yang lembut. Disajikan buat kami semua. Aku puas. Semua puas.

Baca juga: Lelaki yang Menjelma Sinterklas – Cerpen Agus Salim (Media Indonesia, 23 Desember 2018)

Anak lelakiku, Si Sulung, jarang ke sini (haha, mungkin dia malu karena penampakannya yang sudah hampir sepeyot aku). Hanya istrinya saja yang setia menjengukku dan mengeluarkan tenaga serta uang untuk menggaji para perempuan yang menunggui masa senjaku.

Anak lelakiku yang lain, Si Bungsu, sebulan sekali secara rutin akan datang menjenguk. Kami memang memiliki urusan mahapen­ting yang tidak akan pernah usai. Ah, andaikan saja dia bisa sesukses Si Sulung dan istrinya, andaikan dia bisa secepat kilat–walaupun sudah berumur hampir tujuh puluh tahun–bisa punya usaha yang menjanjikan dan menjadi kaya raya.

Oh ya akan kuceritakan padamu, bagaimana maut sekali-kali bertamu di kamar tidurku. Duduk menyandar di dekat bingkai jendela. Memandangiku dengan mata berpendar. Menyuruhku rela. Aku tetap melawan. “Aku masih punya banyak urusan,” kekehku geli. Sinarnya pun surut, lalu menghilang dengan kecewa.

Baca juga: Malaikat yang Menunggu – Cerpen Kristin Fourina (Media Indonesia, 09 Desember 2018)

Kali berikut maut datang, dia duduk-duduk saja di kursi empuk di samping meja makanku. Ikut menikmati makanan yang disediakan oleh menantu perempuanku, istri dari anak lelakiku Si Sulung. Tahu kukus dengan kuah kecap manis yang gurih. Bubur ikan gabus dan telur dadar. Sayur tumis hijau yang diiris tipis agar aku bisa mengunyah nyaman dengan gigi palsu. Dia bersenang-senang di situ. Mengambil sendok dan ikut makan bersamaku. Pernah juga aku mendapatinya makan dengan tangan. Lahap luar biasa.

Sesekali dia mengangkat wajahnya. Meminta persetujuan. Aku tetap menolak. Maut bahkan menjuluki aku, sang juara bertahan.

***

Arsip Cerpen di Indonesia