Menantuku semakin letih harus mencukupi semua kebutuhanku, dia juga menerima saja diperlakukan tanpa harga dari anak-anakku yang lain. Menantuku ini menua dengan cepat. Walaupun mataku buram, aku bisa melihat wajahnya sudah berkerut dalam, serupa nenek peyot. Rambutnya sudah memutih dan menipis dan tulang-tulangnya mulai sakit karena bekerja berat. Tapi kepadanya aku tidak menaruh kasih. Toh dia perempuan berhati dan berbahu kuat. Biarkan saja dia menjalani takdirnya. Bahkan menurut kepercayaannya, apa yang sedang dia jalani ini ialah akibat di kehidupan lalu, dia banyak berutang kepada keluarga kami. Maka, itulah di kehidupan yang sekarang ini, dia berjodoh dengan Si Sulung dan harus membayar semua utang-utangnya kepada keluarga kami. Ah, betul-betul kepercayaan yang menguntungkan kami.
Menjelang pagi maut itu datang lagi. Bersiul-siul. Menunggu susu panas yang kata menantuku, mengandung kalsium tinggi untuk lansia. Aku memandang dengan acuh dan menantang ke arah sang maut. Matanya beserbuk, ada bubuk-bubuk mentari yang silau mengitarinya. Sepertinya dia sangat bersungguh-sungguh kali ini.
Baca juga: Ketika Kucingmu Pergi Sebentar – Cerpen Alpha Hambally (Media Indonesia, 11 November 2018)
“Sudah?” tanyanya mulai angkuh.
Aku menyeringai culas, “Jemputlah dulu anak lelakiku yang bungsu itu. Barulah aku mau menyusul. Dia anak kesayanganku yang di masa mudanya gagah menawan. Kepadanya aku menaruh kasih. Seumur hidup dia menyusu padaku, sejak lahirnya sampai hari ini, walaupun dia sudah bercucu pula. Karena dia selalu gagal menafkahi dirinya sendiri, aku yang harus menyambung nyawa menjadi objek wisata untuknya. Aku punya dompet lain yang kusembunyikan khusus, secara rutin dia akan datang dan mengosongkan seluruh isinya. Jika aku ikut denganmu sekarang, kepada siapa dia akan menyusu?”
Dan maut pun berdecak-decak kagum, “Kasih ibu sepanjang masa…” (M-2)
Catatan
Ballo’: tuak
Caroline Wong ialah cerpenis yang juga sarjana perhotelan. Ia menetap di Makassar, tempat kelahirannya.