Kepada Siapakah Dia akan Menyusu?

Ketika umurku masih belasan, seharusnya aku sudah tewas di tangan serdadu Jepang. Aku berpapasan dengan mereka di kaki gunung Singki, pegunungan yang beraura mistis di Tanah Toraja, tanah kelahiranku. Desa kecil bergunung-gunung, tempat leluhurku dari daratan Tiongkok datang dan kemudian menetap. Mereka berdagang lampu semprong minyak tanah dan kesumba pakaian, beranak pinak, dan mulai bercakap-cakap dalam bahasa daerah dan ikut minum ballo’ manis.

Aku anak perempuan yang lamban, begitu kata semua saudaraku, dan mereka memang benar. Di hadapan para serdadu Jepang itu, aku lupa untuk segera melakukan ojigi membungkuk memberi hormat yang dalam.

Baca juga: Kisah Si Kembar – Cerpen Yus R Ismail (Media Indonesia, 02 Desember 2018)

Mereka menghunus bayonet, awas dan bersiaga untuk segera dihujamkan ke jantungku. Semua memandang ke arahku dengan kaku dan dingin dan gelap. Aku malah meremas rok hitamku yang berbahan kain kasar berkanji. Aku ketakutan, tapi lupa harus berbuat apa. Rambutku yang jatuh sepinggang, terbang ke sana ke mari mengikuti gemuruh angin senja. Nyawaku pun bergemuruh di dalam raga, kukira inilah akhir dari hidupku.

Tapi anehnya, mereka berlalu dalam hening. Kata penduduk kampung, serdadu-serdadu Jepang yang kejam itu, mengabaikanku karena bisa jadi mereka mengira melihat setan perempuan berambut panjang di kaki gunung.

***

Kembali ke maut tadi, dia juga suka menggeledah seisi kamarku. Mencari kenangan buruk yang bisa dimakan. Tapi, aku jarang menyimpan kenangan. Aku tidak punya dendam dan aku juga tidak terlalu punya banyak kebahagiaan.

Baca juga: Kepergian Bapak – Cerpen Anggi Nugraha (Media Indonesia, 18 November 2018)

Kenangan yang paling membekas hanyalah ketika aku kehilangan sepanci besar sop kacang merah dengan tulang sapi nikmat yang kumasak sendiri dan kubawa ke gereja untuk acara makan siang bersama. Pasti ada jemaat lain yang menyembunyikan sepanci sop itu, entah di mana. Mungkin mereka memutuskan untuk menikmatinya sendiri. Padahal aku yakin, sop buatanku itu akan kaya pujian, mungkin lebih enak dari sop buatan Esau di kisah perjanjian lama. Aku akhirnya menghabiskan sepanjang pagi dan siang itu dengan perasaan jengkel luar biasa dan bahkan sudah menuduh seluruh jemaat gereja berkomplot, kecuali sang pendeta dan istrinya. Ya, mungkin hanya ini saja…

Begitulah, bagi maut, aku adalah perempuan tawar. Tapi, dia malah menjadi semakin rajin datang. Makan pagi dan makan siang dan makan malam. Dia selalu ikut mengunyah. Dia sepertinya bukan maut, melainkan setan yang kelaparan.

Arsip Cerpen di Indonesia