Klub Pencinta Binatang

Buaya? pikir Papa merasa lucu atas kalimat yang dilontarkan Kiara tadi. Ia tidak perlu menganggap penting celotehan anak perempuannya itu. Kiara memang suka bicara yang tidak-tidak. Di rumah, ia sering menunjuk ke arah kulkas dan bilang Dinosaurus ada di dalamnya. Ia pernah juga menangkap ikan di kolam dan mengatakan kalau itu seekor babi. Ikan dan babi berbeda sekali, Kiara, kata Mama, kan sudah sering Mama kasih tahu.

Begitulah Kiara, ia dengan mudah dapat mengingat semuanya—nama-nama planet, berhitung dari satu sampai seratus, nama negara dan ibu kotanya, nama latin tumbuh-tumbuhan, tapi sulit membedakan antara binatang satu dengan lainnya. Mama pernah membawanya ke psikolog anak. Tak ada yang salah dengan Kiara. Ia anak yang ceria dan cerdas. Mungkin ia hanya mencari perhatian dengan cara sengaja mengganti nama-nama binatang itu. Semua anak kecil cenderung senang melakukannya, tambah psikolog muda. Nanti mereka akan berhenti sendiri.

Baca juga: Burung Bapak – Cerpen Rifat Khan (Padang Ekspres, 23 Desember 2018)

Akan tetapi, Kiara tidak kunjung berhenti hingga ia kelas dua SD. Anak itu terus menyebut nama binatang dengan nama dan persepsi yang salah.

“Papa, lihat, itu buaya!” kata Kiara kesal, setengah menuntut, karena merasa tidak dipedulikan.

“Ya.” Papa menyahut tak acuh sambil mengelap keringat di lehernya. Ia jelas tidak melihat seekor buaya seperti yang dikatakan Kiara.

Kiara mengentakkan kakinya sambil berjalan cepat-cepat ke arah sekelompok pencinta tupai. Ada banyak anak-anak yang menyukai hewan itu. Seekor tupai melompat ke cabang pohon kecil. Pemiliknya mengejar—dibantu teman-teman satu komunitasnya. Kiara ikut mengejar dan menjerit-jerit. Ia tidak sendirian. Anak lain juga menjerit. Kiara sudah lupa dengan buaya. Dan sekarang ia mungkin saja menganggap dirinya sedang mengejar seekor landak, dan mengabaikan bahwa yang namanya landak kerjanya membuat lubang di tanah, bukan melompat-lompat di cabang pohon.

***

Baca juga: Sepasang Sapi Karapan – Cerpen A. Warits Rovi (Padang Ekspres, 09 Desember 2018)

Mama duduk murung di bangku semen. Ia biarkan saja Kiara berlari kian kemari bersama anak-anak lain. Kepalanya mendadak agak berat. Ia selalu begitu. Tiba-tiba kepala berat tiap Kiara bersikap tidak seperti yang ia harapkan. Seharusnya Kiara jadi anak manis. Kiara yang sopan. Kiara yang penurut. Kiara yang pintar sekali. Nanti Kiara jadi dokter ya. Aku maunya main sirkus sama singa, kata Kiara. Mama tidak tahu di mana Kiara melihat sirkus. Di HP Gumi, Ma, kata Kiara menyebut salah satu nama anak tetangga. Apa lagi yang kaulihat di sana? Kiara mengatakan semuanya. Bermacam-macam video di YouTube. Sirkus. Sulap. Kontes nyanyi. Permainan ular. Minggu besoknya Mama resmi mundur dari kantor. Setelahnya, Mama sangat sering diserang sakit kepala karena ia tidak terbiasa hanya di rumah, tak terbiasa memaklumi segala sesuatu karena baginya semua harus tampak sempurna.

Arsip Cerpen di Indonesia