Klub Pencinta Binatang

“Papa, lihat, harimaunya lucu, tidak jahat,” teriak Kiara dari kejauhan.

Ah, itu bukan harimau, Kiara. Bukan. Kepala Mama bertambah sakit. Sekali lagi, ia menyesali kenapa taman ini harus penuh binatang pada hari Minggu. Binatang-binatang yang dibawa dalam keranjang-keranjang atau tas khusus atau menyelipkannya di balik baju pemiliknya dan warga sudah menunggu kedatangan itu sepanjang pagi di taman yang merupakan bagian dari area gedung olahraga tempat biasa komunitas pencinta binatang berkumpul dan memasang banner bertulisan cukup besar “CINTAI BINATANG LIAR DENGAN MENJADIKANNYA SEBAGAI PELIHARAAN” atau “BINATANG MELATA ADALAH SAHABAT MANUSIA”.

Tadi, mereka sedang berjalan bersama pejalan kaki lain, melintas di depan taman catur ini, ketika Kiara menunjuk kepada sekelompok orang yang berkerumun. Mau lihat ular, Ma, kata Kiara. Mama tidak tahu sejak kapan sebuah taman menjadi tempat piknik para binatang. Seharusnya binatang-binatang dibiarkan lepas di hutan atau di pohon-pohon. Seharusnya mereka dicintai dengan cara yang benar. Seharusnya tak ada binatang di taman catur ini pada hari Minggu.

Baca juga: Sempurna – Cerpen Guntur Alam (Padang Ekspres, 02 Desember 2018)

Akan tetapi, di sinilah mereka berada sekarang, di taman yang rasanya makin penuh binatang—tidak tahu sampai berapa lama lagi. Kiara tidak mau diajak pergi. Ia kadang berjongkok, kadang duduk, kadang berdiri, kadang berlari. Mama belum pernah melihat Kiara segembira hari ini. Bahkan Mama belum pernah melihat anak itu tertawa demikian lepas. Mulutnya terbuka lebar. Satu gigi serinya baru saja copot sore kemarin. Betapa manis dan khas kanak-kanak. Mata Mama sampai berair karena ingat apa yang dilakukannya selama ini pada anak itu. Kiara, jangan ribut! Kiara, kamu bikin Mama capek! Kamu tahu tidak kalau kepala Mama pusing? Kamu sulit diatur! Kamu nyusahin Mama saja! Itu kalimat yang sering ia lontarkan kepada Kiara di rumah. Kalimat-kalimat yang mungkin datang dari ceruk kepalanya yang busuk.

***

Tentang kepala yang busuk itu, pertama kali diketahuinya lewat mimpi. Begitu ia menceritakannya, Papa bilang, kamu mulai irasional. Papa tidak melihat apa-apa di kepala Mama. Paling beberapa helai uban yang datang terlalu cepat.

“Ini masalah besar,” kata Mama meledak. Ia menariki rambut di kepalanya.

Arsip Cerpen di Indonesia