Setelah itu, pembicaraan tentang kepala yang busuk menjadi perdebatan mereka hampir setiap hari. Mama marah terus, itu kata Kiara kepada gurunya. Papa mulai sering berlama-lama di kantor, bahkan sering tidak pulang. Mungkin Papa bosan mendengar kata “kepala busuk” di rumah. Kiara juga bosan sekali, tapi ia tak bisa lari ke mana-mana selain di waktu sekolah. Kiara pernah mendengar, pikiran Mama sakit karena tidak lagi bekerja. Mama tidak suka nganggur di rumah. Namun, Kiara mendengar cerita lainnya. Mama dan Papa tak lagi saling mencintai dan karena itu rumah mereka berubah menjadi tempat perang.
Sejak itu, Kiara senang bermain bersama binatang-binatang. Mereka yang bersembunyi di mana-mana. Kadang Kiara kaget karena seekor binatang ia temukan di balik buku PR-nya yang di bagian belakangnya penuh gambar atau coretan tangannya. Ia bilang kepada Mama, seekor jerapah memakan gambar pohon-pohon di bukunya itu.
Kemudian, semua semakin menjadi-jadi. Papa dan Mama berpisah. Kiara tinggal bersama Mama di rumah mereka. Papa keluar dan mencari tempat tinggal baru. Mereka hanya sesekali bertemu—itu pun karena Kiara yang memaksa, seperti pada hari Minggu ini.
***
Kiara semakin asyik bermain dengan berbagai binatang. Ia terkikik-kikik. Ia sangat gembira—terutama saat diberi kesempatan untuk memegang seekor piton. Mama terus berpikir, bagaimana bisa manusia menganggap perbuatan mengambil hewan-hewan itu dari hutan sebagai cinta?
Baca juga: Bangku Tua Milik Bapak – Cerpen Riyan Prasetio (Padang Ekspres, 11 November 2018)
Kau tidak akan pernah mengerti apa itu cinta! Kata Papa, dulu, sering kali.
Mama merasa sesuatu makin membusuk dalam kepalanya.
Ia berdiri dan matanya mencari-cari Kiara di tengah kerumunan orang yang makin padat.
Kiara tampak keluar dari kerumunan dan ia melambaikan tangan kepada mama dan papanya. Namun, di mata Mama, seketika, binatang-binatang tampak melayang di udara. Mereka saling bertabrakan. Ular-ular saling membelit.
Kepalaku benar-benar telah membusuk, rintih Mama. []
Rumah Kinoli, 2018
Yetti A.KA, tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat. Novel terbarunya, Basirah (2018).