Misteri Ruang Kerja

“Biasanya kalau ada tamu dari luar negeri, saya diperintahkan ke bandara untuk menjemputnya. Tapi dalam minggu ini, saya tak dapat perintah itu, jadi saya memastikan tidak ada tamu dari luar negeri yang mau ketemu dengan Pak Bupati.”

“Kalau nanti saya masuk ke ruang kerja Pak Bupati, apa Pak Ajudan juga masuk?”

“Tentu, saya hanya masuk sebentar mengantar adek berjumpa dengan Pak Bupati. Setelah itu saya langsung permisi ke luar. Jadi Pak Bupati dan adek tinggal di dalam berdua. Ya, hanya berdua.”

Baca juga: Namaku, Andi Gempa Nulanda – Cerpen Rachmat Faisal Syamsu (Fajar, 14 Oktober 2018)

Mendengar penjelasan ajudan bupati, Tini menarik nafas panjang lalu mengembuskannya pelan-pelan. Diulanginya hingga tiga kali. Dia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, agar nanti kalau sudah di depan Pak Bupati, dia tampil percaya diri. Meski demikian, Tini tiba-tiba teringat cerita-cerita yang tak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya berkaitan dengan Pak Bupati yang sudah dua kali beristri. Soal dua kalinya Pak Bupati beristri itu bagi Tini tidak dirisaukannya, tentu hal ini wajar, bukankah istri pertama Pak Bupati yang melahirkan tiga anak buat keluarga terpandang ini telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Bukan itu, bukan. Bukan juga karena gosip yang pernah dia dengar tentang Pak Bupati yang lagi renggang hubungannya dengan istri keduanya yang perkawinannya sudah dua tahun, namun belum juga dikaruniai seorang anak. Yang mencemaskannya, di ruang kerja Pak Bupati nanti hanya dia berdua. “Andaikan Pak Ajudan tetap tinggal juga di ruangan itu, tentu saya senang. Senang sekali karena saya sepertinya merasa aman.” Tini membatin. “Ah, tidak mungkin.” Kalimat itu membuatnya tegar kembali. Seakan menemukan kekuatan akan kecemasan yang ditumbuhkan sendiri oleh pikiran-pikirannya atau mungkin tepatnya imajinasi-imajinasi liarnya.

Baca juga: Surat dari Korban – Cerpen Maskur (Fajar, 07 Oktober 2018)

Puluhan tamu yang mau menghadap ke Pak Bupati, terpaksa menunggu di ruang tunggu, berjam-jam lamanya. Pak Ajudan tidak berani masuk ke ruangan itu untuk menyampaikan bahwa banyak tamu di luar menunggu. Terutama karena yang di dalam ada tamu khusus, Tini, seorang gadis yang diundang khusus, bahkan dijemput khusus di rumahnya oleh ajudan atas perintah Pak Bupati.

***

TIGA bulan kemudian, di tahun yang sama, tahun 1965, sang ajudan datang lagi. Seperti kedatangan pertamanya, kedatangan keduanya ini juga bermaksud menjemput Tini atas perintah Pak Bupati.

“Silakan masuk, Pak,” orang tua Tini, Ibu Mimun, mempersilakan Sang Ajudan masuk rumah.

Arsip Cerpen di Indonesia