“Terima kasih, Bu,” ujar ajudan itu sambil melangkah menuju kursi di ruang tamu.
“Mungkin ada perlu, Pak?”
“Begini, Bu. Saya disuruh lagi oleh Pak Bupati menjemput Tini.”
“O, apa Pak Bupati belum tahu tentang Tini?”
“Maksud, Ibu?”
“Bukankah berita tentang Tini sudah tersiar di daerah ini.”
“Memangnya ada apa dengan Tini, Bu?” Sang Ajudan penasaran.
Baca juga: Kue Bude – Cerpen Rahmawati (Fajar, 02 September 2018)
“Tini, anak gadis saya satu-satunya itu, sekitar dua minggu setelah memenuhi panggilan Pak Bupati, dan bertemu di ruang kerjanya, dia tinggalkan rumah ini tanpa pamit. Siang kepergiannya, saya lagi di pasar, sementara ayahnya, Tarimin, suami saya, pergi bekerja sebagai buruh bangunan. Hingga kedatangan Bapak ini pagi ini untuk menjemputnya lagi yang kedua kalinya atas perintah Pak Bupati, Tini belum kembali ke rumah. Saya sudah tanya kepada kerabat dan teman-temannya, tak ada yang melihatnya, apalagi bertemu dengannya. Tolong, Pak, dibantu agar anak saya itu dapat kembali ke rumah,” cerita dan harapan Ibu Mimun kepada sang ajudan yang menampakkan wajah kecemasan.
Sang Ajudan diam di kursinya. Tunduk, seperti memikirkan sesuatu. Tiba-tiba dia berdiri. “Kalau begitu, saya permisi, Bu.”
“Diminum dulu kopinya, Pak.”
Sang Ajudan kembali duduk, lalu meminum kopinya. Bàru setengah gelas diminum, dia pamit lagi yang kedua kalinya.
Baca juga: Gadis di Atas Pesawat – Cerpen Osella (Fajar, 12 Agustus 2018)
“Iya, Pak. Mohon doanya, Pak. Semoga anak saya dapat kembali ke rumah secepatnya,” harap Ibu Mimun, sedih.
Sang Ajudan mengangguk pelan.
Ketika sudah di pekarangan rumah dan hendak membuka pintu pagar, ajudan itu kembali lagi. Ibu Mimun heran melihatnya, meski tetap mempersilakan masuk rumah lagi, dan duduk di kursi yang sama. “Mungkin ada yang dilupa,” pikir Ibu Mimun.
“Bu, ada yang saya lupa tanyakan. Sewaktu Tini pergi meninggalkan rumah ini, apa ada pesannya, maksud saya adakah catatan tertulis yang ditinggalkan?”
“O, itu, Pak. Ya, ada. Secarik kertas. Tapi saya belum paham apa maksudnya,” ujar Ibu Mimun.
“Boleh saya lihat dan membacanya, Bu?”
“Catatan itu, entah di mana disimpan suami saya.”
“Apa Ibu masih ingat, apa isi catatan itu.”