“Ya, ingat-ingatlah.”
“Apa itu, Bu?”
“Saya benci Pak Bupati. Menjijikkan. Saya menyesal masuk di ruang kerjanya. Harap Bapak dan Ibu hati-hati. Boleh jadi kepergian saya ini, Bapak dan Ibu, akan diancam diculik, lalu dibuang, entah ke mana. Bisa saja ibu dituduh anggota Gerwani, itu organisasi wanita yang dekat dengan PKI, dan Bapak bisa saja dituduh sebagai simpatisan partai terlarang itu. Tidak usah cari saya. Bila waktunya tiba, saya akan muncul sendiri. Bu, langit itu kadang cerah kadang mendung. Maafkan anakmu, TINI.” Ibu Mimun menyampaikan isi catatan yang ditinggalkan Tini menjelang kepergiannya.
Baca juga: Addatuatta Matinroe ri Salemo – Cerpen Andi Makkasau (Fajar, 05 Agustus 2018)
“Persis begitu kata-katanya, Bu?”
“Mungkin kata-katanya tidak persis, tapi maksud catatan itu begitu, Pak.”
“Baik, Bu. Terima kasih. Kapan-kapan saya kembali ke rumah ini lagi untuk menemui Ibu, juga Bapak, maksud saya Pak Tarimin. Permisi.”
Ibu Mimun mengangguk. Tersenyum pahit. Membayangkan catatan Tini menjadi kenyataan. #
Andi Wanua Tangke, alumnus Fakultas Sastra Unhas. Menulis cerpen, esai, dan puisi. Buku kumpulan cerpennya berjudul: Panra’ka.