Perempuan Seperti Tara

Seperti apakah sosok perempuan yang paling ideal menurutmu? Pintar, cerdas, kaya, putih, tinggi atau apalah? Semua orang tentu memiliki gambaran ideal menurut mereka masing-masing. Tidak etis pula kalau kau memaksakan gambaran perempuan paling ideal harus diterima oleh orang lain.

Tara adalah gambaran perempuan paling ideal menurut temanku yang sok sastrawan ini sebagai orang yang brutal. Ya, katakanlah brutal. Seorang perempuan cerdas, kaya yang berkulit sawo matang bertinggi seratus lima puluh sekian sentimeter. Namun, bukanlah itu yang membuat Tara menjadi menarik. Tara adalah perempuan ekspresif yang bicara sesuka hatinya tanpa peduli perasaan orang lain. Dia melakukan apa yang ia inginkan tanpa memikirkan bagaimana pandangan orang kepadanya.

Baca juga: Kopi Nakal dan Cerita Lucu di Hari Itu – Cerpen Ahmad Anif Alhaki (Singgalang, 23 Desember 2018)

Sesaat setelah aku menamatkan novel itu, sekitar lima belas menit aku menghayal. Apakah ada perempuan seperti Tara di dunia nyata? Nyatakah Tara? Siapakah model yang digunakan temanku ini untuk digunakan sebagai inspirasi sosok Lalita Vistara? Aih, sungguh, ceritanya biasa-biasa saja namun sosok Tara ini sangat luar biasa. Beberapa kawan yang merasa perlu untuk membaca novel itu menganggap Tara adalah sosok yang unik pula. Mereka mengira-ngira, kita-kira siapakah Tara itu di dunia nyata?

Pembaca yang budiman, temanku yang sok sastrawan ini telah mengaku bahwa Tara hanyalah imajinasi. Tidak ada benar-benar ada orang yang yang menjadi inspirasinya.

“Janganlah engkau bersusah-susah untuk mencari siapa Lalita Vistara. Dia tidaklah benar-benar ada.”

Baca juga: Malam ini Tidak Ada Susu, Rocky – Cerpen Oxandro Pratama (Singgalang, 09 Desember 2018)

Kalau aku pikir-pikir lagi, memang tidak mungkin ada yang menyerupai sosok Tara di dunia ini. Jikapun ada, itu sangat sulit sekali dalam duniaku untuk bertemu dengan sosok itu. Sungguhlah liar imajinasi temanku ini sehingga dia bisa menciptakan karakter Tara. Meski tidak indah. Meski bukanlah maha karya. Meski tidak diterima oleh penerbit. Meski tidak menang dalam sayembara. Novel ini telah menambah kekayaan khasanah kesusateraan tanah air sekarang ini.

Novel itu dicetak sebanyak dua puluh lima eksemplar dan laku pula ternyata. Banyak yang berminat untuk membelinya. Mulai dari sastrawan dan budayawan lokal yang merasa  perlu untuk mengapresiasi sebuah karya anak muda ini, lalu beberapa kawan yang peduli dengan kesuasteraan, dan dosen-dosen di kampus dia kuliah dulu. Namun lebih banyak yang secara tidak bertanggung jawab mencuri novel itu dari kamar kosnya. Di atara mereka yang memiliki novel Kita Tertawa di tangannya, paling hanya satu dua orang saja yang pernah benar-benar membacanya.

Arsip Cerpen di Indonesia