Akhirnya Lalita Vistara hanyalah menjadi sebuah bahan lelucon kami di kedai-kedai kopi untuk menggambarkan sosok perempuan yang ideal menurut kami masing-masing.
***
“Ini Sarapan pagiku. Mana sarapan pagimu?” Sebuah gambar sepiring lotek muncul di layar ponsel genggam sentuhku. Ini hanyalah satu dari sekian banyak pesan-pesan tidak penting yang dia kirimkan. Tapi dari sanalah kusadari, nuansa-nuansa yang tidak penting ini yang mungkin aku inginkan. Dia menuntunku untuk berbicara lebih banyak dan berfikir lebih dalam dari biasanya untuk merangkai kata-kata tidak penting yang tidak puitis.
Kawanku, sebenarnya aku tidak terlalu ingin bercerita roman picisan tidak berbobot dan tidak berkualitas ini kepadamu. Namun, sebelum kita masuk pada acara utamanya, aku sarankan engkau untuk memutar sebuah tembang klasik dari Sheila on 7 yang berjudul Yang Terlewatakan sebagai soundtrack dari kisah ini. Lagu itu keren juga sebenarnya. Semenjak aku berkenalan dengan dia, bisa sampai lima kali berturut-turut aku mendengarkan lagu itu sekali duduk. Tentunya apabila di kemudian baris, kisah ini menjadi bertele-tele, klise atau apalah, kau masih bisa memahaminya karena antara kisahku dengan lagu itu bisa dikatakan mirip. Apabila tidak ada informasi yang bisa engkau dapatkan dari kisah ini, maka paling tidak, kau telah tahu bahwa lagu Yang Terlewatkan ini enak untuk didengar.
Baiklah, kita mulai sini. “Kemana kau selama ini?”
“Malam yang bosan memaksaku untuk terus menatap ponsel pintarku. Tak ada aktivitas lain. Sejenak mencari humor di dunia maya yang fana mungkin bisa meredakan. Hingga malam itu, aku bertemu secara imajinasi dengannya. Seseorang dengan kerudung merah itu memiliki senyuman yang tak biasa bagiku.”
Maka kututurkan salam perkenalan. Tak kuharap balasan yang bagaimana pun. Setidaknya sudah tradisi bagi seorang laki-laki untuk terlebih dahulu menyapa. Dia membalas pesanku. Dengan dua kosta kata berbahasa Indonesia kemudian tiga titik berurut yang di akhiri titik dua dan huruf “do” kapital. Sebuah penyampaian emosi bahwa salamku dibalasnya dengan senyuman.
Instagram memang bukan bangku yang asik untuk bicara, iya seumpama etalase toko yang menawarkan keindahan, soal tawar menawar? Maka kuminta dua belas digit angka nomor teleponnya. Begitulah aku berkenalan. Semua berawal dari sana dan dua belas angka yang begitu penting nampaknya demi kelangsungan silahturahmiku dengan dia.