Pembaca yang budiman, saat aku mengatakan kepadamu bahka aku akan bercerita tentang kisahku dengan perempuan yang mirip dengan Tara, itu berarti aku tidak mau bercerita sampai hal-hal yang tidak penting. Itu sebenarnya bersifat pribadi. Tidak perlu pula sebenarnya aku gembar-gemborkan kepadamu. Tapi mau bagaimana lagi, sudah tertulis. Malas pula aku menghapusnya. Biarlah, aku hanya mau bercerita saja. Apabila tidak indah, tidak sastrawi ataupun apalah itu bukanlah masalah. Maka maafkanlah. Aku hanya menulis, sekedar untuk bercerita kepadamu.
Mengapa cerita ini menjadi seperti ini? Aku tidak tahu pula entah semuanya menjadi seperti ini. Biarlah, namanya juga sudah tertulis. Mau apa lagi? Apa yang terjadi maka terjadilah! Yang jelas aku bertemu dengan Lalita Vistara versiku sendiri. Memang tidak seratus persen mirip dengan Tara yang ada dalam novel yang dikarang oleh temanku. Tetapi seperti itulah perempuan yang paling ideal menurutku. Kisah ini bukanah sekedar puja-puji terhadap perempuan itu, namun hanya untuk memberitahu kalian bahwa aku telah menemukan perempuan yang paling ideal menurutku. Lalu mengapa pula aku harus menyarankanmu untuk mendengarkan “Yang Terlewatkan”?(*)